Archive for June, 2008

Televisi

Posted in Uncategorized on June 21, 2008 by ricisan

Suasana yang membisu di sebuah ruang tamu. Tanpa dilengkapi dengan perabotan rumah tangga. Yang mampu menghibur dari sorotan mata suami-istri tersebut, yang baru saja berdiam diri di rumah yang sangat sederhana itu. Tempat mereka tinggal berdua. Ia, hanya mereka berdua saja yang ada di rumah itu. Mereka hanya menunggu beberapa bulan lagi, maka istinya akan mengandung anak pertama mereka di bulan ini.

Ketika berada diruang tamu, Adinda mulai bersandar di dinding ruang tamu. Sambil melihat keadaan ruang tamunya. Masi kosong dan tanpa tergeletak sesuatu apapun.
“Abang, lagi ngapain di dalam kamar, perlu dibantuin?.” Tanya Adinda yang sedang duduk sendirian di ruang tamu.

“Ah tidak apalah, Aku bisa mengerjakanya sendiri.” Sambil membereskan pekerjaanya di dalam kamarnya.
Tidak seperti biasanya. Tugas yang menyibukkan bagi Aden, membuatnya tidak dihiraukannya lagi. Aden asyik sibuk melanjutkan pekerjaanya. Sehingga dia tidak ingin merepotkan Adinda, istrinya.
Adinda pun mulai menyiapkan diri ke dapur. Menyiapkan teh hangat dan roti sele. Agar bisa memenuhi isi perut yang kosong di pagi ini. Sambil berjalan ke ruangan tamu, dan menghindangkanya di lantai ruangan tamu tersebut.

“Abang,marilah sarapan dulu. Kita minum teh dan makan roti sele kesukaanmu.” Bujuk Adinda kepada suaminya, yang masi berdiam diri di dalam kamarnya. Aden pun mulai memenuhi pangilan istrinya. Sambil menghampiri istrinya, yang sedang duduk sendiri di ruang tamu. Aden memandang istrinya yang sedang duduk, sambil minum teh dan melihat kearahnya yang baru saja hadir. Aden mulai mencicipi hidangan di pagi ini. Walaupun sekadarnya, tapi cukup berarti baginya di pagi ini. Terasa nikmatnya untuk makan roti dan sambil minum air teh hangat bersama istrinya.

“Jadi apa tidak hari ini, kita pergi ke toko untuk membeli televisi yang kita janjikan waktu itu?” Tanya Adinda kepada suaminya, yang baru saja duduk di dekatnya. “Tentu saja jadi, tapi masih banyak urusan dengan para pemilik televisi tersebut. Aku harus mencarinya berkali-kali, dan tanpa keputusan yang jelas darinya. Kapan dan kapan, agar Dia mau membawanya kemari, ke rumah kita Adinda?” Sambil bergumam sendirinya, akibat keterlambatan pengiriman televise tersebut.
“Mungkin saja dia lagi sibuk sama pekerjaanya yang lain. Lagipula , televise itupun letaknya jauh dari pusat kota.” Sahut Adinda, untuk menenangkan suaminya yang sedang kesal dengan tingkah laku Anton , yang tidak menepati janjinya.

Keesokan harinya, Anton datang datang pagi-pagi sekali ke rumahnya Aden. Sambil membawakan pesanan televise yang sudah dijanjikan berbulan-bulan yang lalu kepada Aden. Anton mulai mengetuk pintu rumah mereka. Tidak ada jawabanya, dari pemilik rumah itu. Barulah kemudian ada suara balasan dari pemilik rumah tersebut.
“Pagi Bang Anton?, ini barang pesananmu. Maaf, kalau telat saya membawakanya kemari.”
“Ah tidak apa-apa.” Seru Aden, sambil mempersilakan masuk. Dan membawa masuk televise yang berukuran kecil itu.

Televisi itu hanya di taruh di dalam kamar mereka. Karna hanya di dalam kamar mereka saja yang layak untuk di letakkanya. Lagipula, rumah merekapun tidak mempunyai meja untuk menaruhkanya di ruang tamu.
Sambil melihat isi kamarnya. Aden pun mulai melihat Anton yang sedang senyum-senyum di belakangnya.

“Sederhana sekali Bang rumahnya. Hanya tempat tidur yang bisa menjadi alas untuk tidur saja di rumah ini.” Sambil tertawa melihat televise dan tempat tidur, yang ada di kamarnya.
“Namanya saja rumah sederhana. Tentu saja semuanya serba sederhana kan?”
“Ia juga sih.” Sahut Anton, yang sedang memandangi kamarnya Aden.
“Entar kalau ada uang dan umurku panjang, pasti aku akan membeli barang-barang yang belum terbeli. Ya, tapi itupun yang bisa dijangkau oleh gajiku doang.” Sela Aden, dari hasil lamunanya di dalam kamarnya.

Para tetanggapun mulai berdatangan untuk melihat televisi yang dibicarakan oleh para tetangga yang lainya.. Sebab, hanya rumah Adinda saja yang baru saja membelikan televisi baru itu. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi para tetangga yang lainya. Yang belum mempunyai televisi di rumah mereka masing-masing. Walaupun hanya televisi. Tetapi, hal ini sangatlah menguntungkan bagi para tetangga yang lainya. Mereka bisa menikmati televise itu di rumahnya Adinda, yang sangat sederhana itu. Apa lagi Adinda dan suaminya memberikan ijin untuk menonton televise itu. Dari pagi sampai malam. Kecuali jam istirahat telah tiba. Maka merekapun wajib mengindahkan hal ini untuk dimaklumi.

By Jojoe…

Kekuatan Kata-kata

Posted in KEHIDUPAN on June 17, 2008 by ricisan

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya. Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui laporan pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela disamping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah …… TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. “Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup,” kata perawat itu.

Teman, saya percaya setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu.

Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir, dan bertindak. Saya juga percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat bagi kita yang mempercayainya.

Saya percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah Manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, dengan sopan, akan selalu lebih baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal. Sampaikanlah semua itu dengan bijak, dengan santun.

(Disadur dari tulisan : Andi Nugroho)

lihat lah teman, ternyata masih ada orang yang mencoba membahagiakan orang lain dengan ikhlas tanpa memandang kekurangan yang dimilikinya serta tanpa pernah pamrih dengan apa yang dy berikan.

lihatlah sekarang, apa yang kita miliki ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membuat orang lain bahagia, untuk membuat orang lain tertawa indah, untuk membuat orang-orang lain tersenyum ceria, namun kita lebih memilih untuk membuat orang lain tersakiti.

kenapa kita tidak pernah berpikir untuk membahagiakan orang lain, apakah itu sebuah penyakit turunan, ataukah itu memang bawaan diri yang sangat sulit dihilangkan.

teman, silahkan merenungi apa yang tertulis diatas, ada banyak hal yang dapat kita lakukan
untuk membahagiakan orang lain.

mari mulai dari diri sendiri untuk mecoba membahagiakan orang lain,

karena ada sebuah pepatah, kebahagiaan itu akan datang dengan sendiri ketika kita berusaha untuk membahagiakan orang lain dengan ikhlas.

silahkan mecoba