Hujan Api Matahari


[ penulis: Dianing Widya Yudhistira ]

 

Mengapa Tuhan tidak singgah di hatinya? Di manakah Tuhan? Pertanyaan itu semakin mengental dalam pikiran Jihan. Ibunya selalu berkata: Tuhan itu Maha Esa, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Tuhan Maha dari segala Maha. Selalu begitu kata ibu.

 

Ucapan ibu Jihan selalu seiya-sekata dengan kalimat Ayahnya. Cuma ayahnya menambahkan argumen-argumen tentang kesukaan dan kecintaan Tuhan. Tuhan lebih menyukai hamba-Nya yang berilmu, menutup auratnya, berbusana rapi dan bersih. Tuhan akan dekat kepada siapa yang mendekati, dan menjauhi manusia yang menjauhi-Nya. ya, Tuhan mengikuti kehendak hamba-Nya.

Jihan jadi pusing, kata-kata ibu juga ayahnya sama-sama membingungkaan. Sulit dicerna. Dan apakah Tuhan memang sulit untuk dipahami? Hingga Jihan menginjak usia 17-an, ia tidak pernah merasakan kehadiran Tuhan. Bila di mata teman-temannya, Jihan adalah anak yang dilimpahi kesenangan, tidak dengan kenyataan sesungguhnya.

 

Kedua orangtuanya, publik figure. Ibunya, Zura dikenal sebagai da’i kondang. Hampir semua stasiun televisi menampilkan ibu Zura menjadi penceramah, juga di setiap acara, ibunya selalu tampil dan mendapat respon positif pemirsa. Bahkan banyak pemirsa yang menyakan kepada ibunya solusi jika menghadapi suatu ikhwal mereka.

Ibu Zura yang anggun dan keibuan memberi pesona siapa pun yang memandang wajahnya. Semakin sempurna dengan tuturnya yang lembut. Sehingga namanya begitu melekat di hati orang-orang yang haus siraman rohani. Itu pula yang membuat stasiun televisi terus mengundang tampil di depan publik.

 

Ayah Jihan tak kalah populer. Ayahnya seorang pendidik yang disegani di belahan negeri ini. Sosok Pak Zain, ayahnya selalu menjadi pembicara di seminar-seminar. Wawasannya yang luas dengan wajah tenang, dan setiap kali Pak Zain mengunjungi sebuah sekolah, anak-anak menyambut dengan berebutan untuk bisa berjabat tangan. Dengan Sosoknya seperti itu Setiap anak akan memperhatikannya lekat-lekat sembari berangan-angan andaikata mereka memiliki ayah seperti Pak Zain yang lembut, bijak dan penyayang.

 

Ketenaran dan kesantunan kedua orangtua Jihan itulah yang membuatnya merasa tertekan. Kemanapun Jihan melangkah dan bergaul, kebesaran nama Ayah dan Ibunya begitu menjadi beban jiwanya. Orang-orang terlanjur melekatkan sosok kedua orangtua itu pada diri Jihan. Jihan harus bisa bertingkah laku yang baik, menjaga nama baik keluarga. Sehingga ia terpaksa melakoni tingkah laku normatif, meskipun hasratnya ingin seperti remaja lain yang bebas dalam bergaul tanpa dibebani nama baik kedua orangtua mereka.

 

Jihan ingin supaya sekelilingnya memandang sebagai Jihan sendiri. Berbusana seadanya dan sedikit memamerkan pusar, mengenakan giwang di ujung hidungnya, atau ia bebas melukis lengannya dengan gambar mawar atau lumba-lumba. Pendek kata, Jihan ingin menikmati masa remajanya seperti remaja lain.

Kenyataan itu kian memberat dengan keadaan Jihan di rumah.

Keberadaannya sebagai anak tunggal, membuatnya sering merasa kesepian. Kedua orangtuanya sendiri begitu larut dengan kesibukan. Mereka seperti melupakan Jihan. Mereka dengan tulus mencurahkan kasih sayang buat banyak orang. Sehingga rumah buat kedua orangtuanya ibarat persinggahan semata.

 

Itu yang membuat Jihan sering mencibir ketika menyaksikan tayangan ayah atau ibunya di televisi dan orang-orang mengelu-elukan mereka. Secara pelan-pelan Jihan merasa tersisih, dan sosok ayah dan ibu di rumah mulai kehilangan. Sering Jihan berkhayal kapan duduk semeja dengan kedua orangtuanya, lalu bertanya apa saja. Bertanya tentang keberadaan Tuhan yang sering diceramahi ibunya. Jihan ingin sekali mendiskusikan tentang Tuhan, dan bukan sekedar keyakinan turunan. Itu yang membuat Jihan sering galau, namun kedua orangtunya tidak tahu itu.

Hari-hari dijalani Jihan dengan gusar. Pertanyaan, apakah Tuhan itu pernah singgah di hatinya. Jika Tuhan Maha Esa, kenapa begitu banyak keyakinan?

 

***

Malam merangkak. Jendela kamar Jihan yang menghadap ke laut lepas masih terbuka. Purnama telah sempurna. Ia pandangi lama-lama wajah bulan bulat penuh itu. Jihan suka memandang berlama-lama bulan yang memancar ketulusan. Bulan dengan rela menyinari bumi tanpa membedakan siapa penghuninya. Tak kecuali para pelacur yang sedang cecikikan atau mereka yang sekarang terbaring di emperan kota, di kolong jembatan dan di bantaran sungai yang pekat.

Bulan tidak mengenal orang-orang yang tinggal di istana dan rumah mewah, orang-0rang berdasi dan wangi, atau mereka yang doyan merampok, dan membunu.

 

Bulan tidak mengenal orang yang rajib beribadah atau mereka yang ingkar akan Tuhan. Bulan cuma mengenal satu, yaitu bersinar meratai ke seluruh bumi. Jihan memandang lumat bulan hingga matanya seperti terbelalak. Ia lihat Bulan seperti sedang menyihir permukaan air laut hingga bergolak dan menggulung ombak lain dengan suara gemuruh. Air laut seperti menggapai-gapai bulan itu sendiri. Jihan merasakan seperti ada yang menarik-narik pori-porinya. “Tuhan, mengapa air laut seperti terbang?” Kalimat itu begitu saja meluncur dari mulut Jihan. Seketika air laut turun dalam waktu kurang dari seperseratus detik. Udara diam. Langit diam. Angin tak bertiup. Margasatwa diam. Pepohonan diam. Permukaan laut tenang. Senyap. Jihan menggigil hebat.

 

“Tuhan,” suara Jihan seperti mendesah. Lalu mengalir begitu saja. Hatinya seketika agak tenang hingga Jihan menjatuhkan pandangnya ke bawah. Kedua tangannya memegang kuat bibir jendela. Jihan tidak berani menatap laut yang ada di depan jendela kamarnya. Jihan takut menatap bulan. Dengan tangan bergetar hebat. Spontan ia menutup jendela tanpa menguncinya.

 

Jihan berlari menuju pintu kamar. Merasakan begitu jauh sehingga ia berlari kencang. Entah bepara lama, Jihan terus berlari dengan nafasnya yang tersengal namun seperti tak bisa mencaoai pintu kamarnya. Ia sadari kemudian tubuhnya tergeletak di tempat tidurnya sendiri. “Tuhan” begitu ucapnya pertama kali sambil mengingat-ingat peristiwa semalam yang ia alami. Mengapa Tuhan tak hadir dalam hatinya.

 

***

Semalaman Jihan tidak pulang. Ia mencoba mencari Tuhan, sebab kata-kata ibunya mengenai keberadaan Tuhan, seperti tak bisa ia terima. Jihan berhenti di depan gedung. Ia pandangi langit luas. Terik Matahar seperti membakar dan menusuk ke ubunnya. Terasa begitu dekat hingga badannya berpeluh dan seperti terpanggang.

 

Sebuah tiang di pinggir jalan ia jadikan sandaran, lalu tak ingat lagi hingga menyaksikan sendiri dirinya naik ke sebuah gedung. Ketika itu Jihan berteriak sambil memanggil Tuhan, berkali-kali dan berhari-hari. Tidak ada yang mendengar hingga suaranya hilang. Ia hampir saja terpelanting bersamaan sebuah dentuman sangat keras. Matanya terbelalak ketika metahari meledak dan meluncur ke bumi. Bunga-bunga api seperti hujan dan menghanguskan seluruhnya.

 

Jihan melihat ayah dan ibunya sendiri tengah berdiri di jendela kamar hingga pecahan matahari meluncur ke arah mereka. Kedua orangtuanya itu meleleh seperti lilin. Jihan hanya menangis menyaksikan kedua orang terkasih itu sambil teisak ia memanggil Tuhan. “Tuhan hentikan hujan api matahari,” pinta Jihan sambil bersimpuh.

***

 

*)Dianing Widya Yudhistira, lahir di Batang 6 April 1974. Mempublikasikan karyanya di berbagai media cetak Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Aceh, NTB, Denpasar, Malaysia dan Brunei Darussalam.

*) Puisi dan cerpennya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama. Karya-karyanya yang lain dipublikasikan lewat situs pribadi (http://www.dianing.uni.cc). Novelnya, Sintren , kini sedang dimuat bersambung di Harian Republika, Jakarta.

 “Tanggapan”

Cerpen ini bukan hanya sebuah cerpen biasa tapi jauh lebih dalam dari pada itu, dari tiap tulisannya memberika kita pelajaran yang sangat berarti dalam hidup ini,  Jihan yang faktanya adalah seorang anak yang hidup bergelimangan kekayaan dan ketenaran orang tuanya masih mencari makna dalam tentang eksistensi kehadiran Tuhan dalam hidupnya, kebebasan yang sangat membuatnya terikat semakin membuatnya tertekan dalam kesendiriannya, namun iya tidak berhenti sampai disitu dalam mencari Tuhan..

Sekarang, dan mungkin saat ini, sangat jarang kita menemukan sosok seperti jihan, sosok yang mencari Tuhan didalam bergelimangannya harta dan ketenanaran orang tuannya, ada sosok jiwa yang dangat ingin menemukan dan menghargai Tuhan dalam sosok Jihan yang mungkin tidak dapat kita temukan dalam jiwa remaja masa kini, Tuhan itu Maha Adil, berusaha dan mencari arti hadirnya dalam kehidupan ini mungkin akan lebih memaknai kehidupan kita yang tak pernah terhindar dari dosa walaupun sedetik.

Pahamilah dan Sadari semuanya. . . . . . .

 

3 thoughts on “Hujan Api Matahari

  1. sang monalisa

    q sang malam,
    berjuang tanpa henti menjaga mentari.yg lebih agung disebut matahari
    suatu hari q terbangun dan dia tertutup awan…
    dan berakhir dengan hujan…
    q takut dy hilang
    hingga sang hujan berkata
    dia…
    q menjagamu dari takut sang cahaya…
    q selalu mnunggu kau datang dan berkata
    lindungilah dia sang mlaikat terbang.
    q tahu ini begitu sulit dipahami tapi ketika suatu hari kau tahu makna sesungguhnya dari hujan dan matahari kau tak ka berkata spt itu,q tak marah tp q sesungguhnya bingun hey sang juru pintu.16sl3

    Reply

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s