Luka…


AKSI perampokan beruntun terjadi di beberapa tempat dalam wilayah yang baru damai: Aceh. Ini menyisakan luka, duka bagi anggota keluarga yang kehilangan bagian keluarga lainnya. Anak kehilangan sang ayah, isteri kehilangan suami, bahkan daerah ini pun terancam kehilangan puluhan puteranya yang kini sedang berhadapan dengan maut, menanti sang ajal menjemput dalam kecaman hukuman mati di negeri jiran Malaysia.

Luka juga menoreh sudut hati terdalam, menyaksikan kondisi moral aneuk nanggroe yang dirasa semakin jauh dari ajaran suci agama dan keyakinan mereka. Secara beruntun, kita saksikan seperti sebuah drama yang tak berakhir.

Aksi bejad mesum yang tidak ditenggarai oleh ikatan suci pernikahan, meruyak bak jamur di musim hujan. Mulai dari muda belia, hingga si tua renta. Entah apa yang terlintas di pikiran mereka saat melakukan hubungan tidak sah yang kemudian diabadikan pula melalui telpon seluler.

Tapi, kalau pelanggaran syariat ini dilakukan oleh warga Aceh, termasuk pejabatnya di luar Aceh, ini memang bukan hal yang luar biasa. Sudah menjadi rahasia umum. Namun, trend untuk mengabadikan adegan mesum dengan pasangannya, yang dikerjakan di Aceh dan kemudian menjadi trend baru di Aceh? Ini memang dahsyat. Munafik-kah kita?

Syariah terkoyak luka.

Kasus terakhir tindakan mesum, lebih memperparah luka. Manakala sepasang muda belia menjadi korban tindak kebejatan lainnya dari sekelompok pemuda yang melakukan pemaksaan terhadap pasangan remaja ini. Bejat…, sutradara nista memaksa pasangan ber-adegan melakukan mesum mereka di hadapan banyak orang. Ini pemaksaan yang …, saya mengigil.  

Tak terbayang oleh saya, ketika kondisi ini menyeruak ke permukaan nanggroe ini. Mata terbelalak, senyum menjadi kecut, seolah tak percaya, kenyataan ini ada di depan mata, di nanggroe syariah. Lihatlah fenomena ini bapak-bapak pejabat…

Padahal, baru saja kita menyaksikan adegan pelanggaran syariat itu dilakukan oleh PNS di Aceh Barat Daya. Tak lama kemudian kembali dihebohkan dengan adegan yang serupa oleh pasangan belum menikah dari kawasan Neusu. Dan, nafas kembali terhenyak, ketika menemui kenyataan hal serupa kembali terulang, bahkan diikuti dengan tindakan kejam yang sangat tidak bermoral.

Salah apa kita di nanggroe tercinta? Benarkah semakin kita dikekang semakin bergolak keliaran yang secara naluri dimiliki oleh manusia? Atau penguasa baru yang sedang gentayangan mengatasnamakan dan mencincang syariat?

Sepertinya luka ini semakin melebar saja. Sejauh ini, tak ada dokter yang mampu melakukan pengobatan yang cukup baik untuk membuat luka ini menjadi lebih tak menganga.

Pelaku pelanggaran masih tetap menjadi misteri dan belum terungkap. Baik itu pelaku perampokan bersenjata, pelaku pembunuhan keji hingga pelaku kejahatan seksual. Entahlah …

Sekali waktu obrolan warung kopi antara saya dan seorang teman membuat saya terenyuh dan tergugu. “Ini adalah akibat dari kurangnya pendidikan di masyarakat kita. Entah itu pendidikan dari mana, dari meunasah kah, atau dari sekolah. Kita tidak mampu menerima perubahan global yang kini merangsek cepat tanpa bisa dicegah,” katanya.

Saya pun mulai membayangkan, maraknya sinetron yang tayang di televisi swasta, hampir setiap malam dengan topik hamil di luar nikah, pergaulan muda-mudi tanpa batas, hedonisme, hingga aksi taubat seorang anak manusia yang sebelumnya bejad, dengan menunjukkan hukum-hukum pembalasan dari Tuhan Sang Penguasa, (yang terkadang aneh di pandangan saya, mengutip satu perkataan yang pernah dilontarkan seorang Da’i Kondang di zamannya, Zainuddin MZ. “Ini dia neh, kalau sudah ada syetannye, keluar deh fathehahnye.. seolah-olah Islam hanya antara Syetan dan Fathihah.”

Belum lagi tayangan siaran televisi luar negeri yang kini bisa didapat hanya dengan menekan dua jari di kamar tidur kita. “Globalisasi perkembangan dunia ini tidak bisa dicegah, bak gelombang tsunami, datang dan menerjang apa yang ada, tapi kita bisa menghindar, jika kita bisa bersikap bijak,” tambah teman saya pula.

Kembali saya tergugu.

“Kini di nanggroe ini, sudah kah kita bersikap bijak. Pemerintah, penegak hukum dan orang lain yang bertanggungjawab terhadap perkembangan nangroe ini saja, nyaris bosan mengurusi nanggroe dan isinya. Jangan-jangan aturan syariah yang sudah digembar-gemborkan sejak lama hanya untuk kejar setoran saja, buktinya makin bersyariah, makin liar isi nanggroe ini,” ahhh… teman saya ini makin tak bisa diam.

Sudah lah… saya menukas. Tapi dia tetap berceramah. “Syariah, bukanya hanya shalat lima waktu, menutup aurat, tidak berdua-duaan, tapi juga melingkupi perilaku kita sehari-hari. Misalnya, tidak mengeluarkan kata-kata makian yang merangkum bentuk lubang dubur (maaf-pen) hingga bentuk hewan yang diharamkan agama.”

Kendati bosan mendengarnya, tapi saya tidak merasa sedang di-khutbah-i.

Memang, diakui atau tidak, situasi dan kondisi (mungkin ini terus menjadi ujian bagi kita dari Allah) telah membuat semua warga di nanggroe ini mulai terkikis hati nuraninya dan perasaan jiwanya. Sifat egois dan ingin menang sendiri mulai memuncak pada setiap langkah kaki mengawali hari demi hari. Barangkali kita sudah lupa, bagaimana indahnya kebersamaan dalam sebuah kehidupan. Kebersamaan menjalankan syariah, kebersamaan menjalankan roda ekonomi, bahkan kebersamaan menjalani rasa luka dan duka.

Tapi, kita masih mungkin kok mengembalikan itu semua, hanya caranya bagaimana? Saya pun kembali tergugu.

Harian Aceh Kita, Minggu, 3 Juni 2007, 21:11 WIB
CELOTEH
Reporter : Despriani Y Zamzami

One thought on “Luka…

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s