ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-1)


AGAR RAMADHAN PENUH RAHMAT, BERKAH, DAN BERMAKNA

Hari ini kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita
petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada
peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual,
dan pembeningan jiwa dan nurani.

Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan
manusia.. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum
datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam firman Allah
berikut, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni
tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah
janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada
siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari
“rahim” Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang
berlangsung pada bulan diklat itu.

Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa
yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus”
(HR. An-Nasai dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak
melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan
untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan
bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna:

Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.

Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas,
sangat korelatif dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang
pekerjaan itu.. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki
persepsi yang bernar tentang puasa.

Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah
mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar
tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda,

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah
mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus
dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada
bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka
tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang
yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan
ini.” (HR. Ath-Thabrani).

Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat – dan tentu saja kita semua –
bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan
Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna
apa-apa..

Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam
kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan
ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika
kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias
untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang
untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau
mendekatinya sehingga dia akan menganga.

Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.

Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa
itu.. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang
boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.

Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi
panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan
kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu
melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah
sabdakan,

“Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan
memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi
pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).

Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal
kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa
merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih orang-orang
mukmin.. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa
kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan
semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.

Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu
penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan
anggota badan.

Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan
perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang,
solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.

Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi
batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk
tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.

Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihat
hal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang
melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan
perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat
bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta
haram.

Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran
dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama,
angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.

Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata, “Jika kamu berpuasa,
maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan
sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap
tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu
(saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa.”

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia
mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak
makan dan tidak minum.” (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya)

Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan
amal ke depan.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s