ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-6)


AGAR WAKTU TAK MENGUAP PERCUMA

“Time is Money” (Waktu adalah uang)

“Al-waqtu kas-saif illam-taqtho’hu qatha’aka” (Waktu ibarat pedang, jika
kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu yang akan memotongmu).

“Al-Waqtu huwal-hayaah” (waktu itu adalah kehidupan itu sendiri).
Karenanya ada ungkapan lain senada: “al-waqtu ‘amaar au damaar” (waktu
adalah keceriaan atau kebinasaan).

Betapa banyak ungkapan-ungkapan senada yang mengindikasikan keberhargaan
dan ketinggian nilai waktu bagi kehidupan.

Penting dan berharganya waktu ditunjukkan Allah swt., sehingga Ia
bersumpah dengan masa (baca: waktu) dalam firman-Nya, “Demi masa,
sesungguhnya manusia itu benar berada dalam kerugian, Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling
menasehati dengan kebenaran dan kesabaran” (Al-‘Ashr: 1-3).

Demikian juga dalam ayat-ayat yang lain, Allah swt. bersumpah dengan
beragam waktu dalam sehari semalam, “Wallaili idzaa yaghsya” (demi waktu
malam saat kelam), “wadh-dhuhaa” (demi waktu dhuha), “wal-fajri” (demi
waktu fajar) dan seterusnya.

Secara kontekstual, ayat-ayat Allah swt. di atas mengisyaratkan dengan
jelas tentang kemuliaan dan ketinggian nilai waktu. Sebagaimana ia juga
mengisyaratkan bahwa manusia sangat akrab dengan keburukan dan
malapetaka, karena terlena dari kejapan masa. Juga memberikan pengertian
bahwa tidak ada yang lebih mahal harganya daripada umur yang
dikaruniakan pada manusia.

Penting dan mahalnya harga waktu, juga dijelaskan dalam teks-teks hadits
Rasulullah saw., sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’an, antara lain :

“Dua nikmat yang banyak orang rugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan
waktu luang” (al-hadits).

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan melangkah pada hari Kiamat sehingga
ia ditanya tentang empat perkara, yaitu: tentang umurnya untuk apa ia
habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia lewatkan, tentang hartanya
dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya
untuk apa ia gunakan” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani).

“Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu
sebelum masa tua, kekayaanmu sebelum kemiskinan, kesehatanmu sebelum
sakit, masa hidup sebelum engkau mati” (Al-Hadits).

Kesadaran akan penting dan berharganya waktu tersebut, juga dimiliki
para salafuna shalih (pendahulu kita). Mereka mengungkapkan kesadaran
itu dengan kata-kata indah, antara lain:

“Orang mukmin tidak bergerak melangkah kecuali untuk tiga perkara,
yaitu: membekali diri untuk akhirat, atau mencari nafkah untuk hidup,
atau sekedar menikmati hal-hal yang tidak diharamkan”.

“Saya (Umar bin Khathab ra.) benci melihat orang punya waktu luang tanpa
diisi dengan aktivitas berdimensi ukhrawi, tak pula kegiatan duniawi”.

“Kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”.

“Peluang adalah emas, kesibukan adalah keberkahan, tidak dapat mengatur
waktu adalah bencana”.

“Malam dan siang adalah modal kekayaan orang mukmin. Keuntungannya
adalah sorga, sedangkan kerugiannya adalah neraka”.

Sehingga, kita pun dapat meneladani mereka dengan ungkapan nurani:
“Tiada waktu tanpa tilawah dengan al-Qur’an”, “Tiada saat-saat, tanpa
aktivitas yang diridhai-Nya”, “Tiada peluang kecuali bermanfaat”. Itulah
ungkapan nurani yang bermuara pada firman Sang Pencipta nurani: “Maka
jika engkau berpeluang (waktu kosong) hendaknya diisi (dengan yang
bermanfaat)” (QS. Al-Insyirah: 7).

Waktu… oh waktu.., demikian berharga engkau. Masa.. Oh masa, tiada
berguna penyesalan atas masa lalu.

Ramadhan merupakan salah satu masa dan waktu bagi kehidupan kita.
Bahkan, Islam memandang Ramadhan adalah waktu dan peluang investasi
kebajikan untuk kehidupan akhirat, saat Allah meminta pertanggungjawaban
setiap waktu dan masa yang digunakan manusia. Tak terkecuali.

Investasi yang ditawarkan bukan sekedar sesuatu yang mendatangkan
keuntungan duniawi belaka. Keuntungannya pun tidak sekedar keuntungan,
tetapi keuntungan yang berlipat ganda, untung dunia dan akhirat.

Sebagai ilustrasi, jika ada seseorang kaya raya menawarkan kepada Anda
modal besar untuk diinvestasikan dalam sebuah bisnis mulia. Bahkan orang
kaya itu memberikan hibah pemberian kepada Anda dan bukan pinjaman
modal. Apa sikap Anda dan bagaimana selayaknya Anda lakukan terhadap
modal besar tersebut?

Karena harta modal itu pemberian untuk anda, Anda bebas bersikap dan
memperlakukannya. Tetapi pantaskah Anda berfoya-foya dengan harta itu?
Layakkah Anda mensia-siakan hartanya? Bijakkah Anda ketika Anda hanya
berucap “syukron” (terima kasih), tanpa ada upaya bagaimana agar Anda
bisa hidup wajar dan penuh keceriaan?

Selaku orang bijak dan pandai berterima kasih, tentunya Anda harus
memanfaatkan pemberian orang kaya itu dengan sebaik-baiknya, yang
manfaatnya tidak hanya untuk Anda, kemungkinan besar untuk orang banyak,
juga bermanfaat untuk kehidupan yang berdimensi ukhrawi. Selaku orang
beriman dan beragama, tentunya Anda harus membuat sebuah planning yang
tepat guna, sehingga pemberian orang yang banyak itu dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.

Demikian juga halnya di dalam bulan Ramadhan, Allah swt. dengan
syariat-Nya memberikan banyak hadiah berlipat ganda, selama Anda
menjalankan syariat-syariat-Nya di bulan suci ini. Hadiah itu bermuara
kepada ‘bonus’ Allah berupa kebahagiaan lahir batin di dunia dan
akhirat, karena tercapainya diri yang fitrah, bersih dari segala noda,
salah, dan dosa.

Karenanya, sangat pantas dan wajar jika kita mampu memanfaatkan
pemberian Allah swt. selama bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
Sehingga, waktu-waktu kita pun selama itu tidak terbuang percuma dan
lewat tanpa buah manis bagi kehidupan kita.

Caranya..? Buatlah perencanaan yang matang jauh sebelum Anda memasuki
bulan suci Ramadhan kali ini. Ada baiknya, jika Anda juga melakukan
evaluasi terlebih dahulu terhadap waktu-waktu Anda pada bulan Ramadhan
tahun lalu. Setelah itu, baru Anda buat planning Ramadhan tahun ini.

Dalam planning, tentunya diperhatikan hal-hal yang terkait dengan
planning, seperti tujuan, aspek-aspek aktifitas yang mengacu pada
dimensi tujuan yang ditentukan. Kemudian dibuat sistematika pelaksanaan
dan evaluasi berkala, lalu buatlah program yang dapat menunjang capaian
tujuan yang ditentukan.

Tujuan: Tujuan akhir dari aktivitas Ramadhan adalah meningkatnya
kepribadian muslim. Acuan kepribadian muslim tersebut adalah mukmin
multazim (komitmen) dengan Islam baik dalam aspek akidah, ibadah, dan
muamalah (baca: orang muttaqin).

Hal-hal yang termasuk dalam aspek akidah seperti: keyakinan wajibnya
shaum, keikhlasan niat dan motivasi, bergembira dan berdo’a, kesiapan
meraih tujuan shaum. Pada aspek ibadah, tujuan antaranya seperti:
memahami hukum-hukum ibadah, memahami etika shaum dan amalan utama serta
hikmah shaum. Sedangkan aspek muamalah diarahkan kepada aktivitas
bernuansa moralitas bergaul, seperti: silaturahim, saling memaafkan,
berlapang dada, kebersamaan dan lainnya.

Dari tujuan akhir dan tujuan antara serta bentuk-bentuk aktivitas
tersebut, kita dapat menentukan berbagai kegiatan dengan beragam
aspeknya (ruhiah, fikriah dan jasadiah). Kegiatan-kegiatan dalam aspek
ruhiah, contohnya: ibadah wajib, nawafil (ibadah sunnah), i’tikaf,
tarawih atau qiyamullail, tilawah Al-Qur’an 1 juz perhari dan lainnya.

Dari aspek fikriah, seperti: mengikuti kegiatan kuliah shubuh,
menentukan bacaan Islam tertentu, mendatangi ustadz atau orang-orang
yang dipercayai kompeten dalam berkonsultasi dalam bidang-bidang
tertentu. Juga menghadiri acara-acara ilmiah, serta jangan lupa hindari
debat dengan orang lain.

Sedangkan aspek jasadiah, kita dapat membuat program-program yang
terukur, seperti: tidak isrof (berlebihan) dan segala hal, makan sahur
yang cukup, makanan halal dan bergizi, senam ringan 15 menit sehari dan
aktifitas positif lainnya.

Keberhasilan Anda dalam planning merupakan sebagian dari keberhasilan
Anda dalam mencapai cita-cita dan tujuan mulia. Awali usaha Anda dengan
tekad, kemauan kuat. Kemudian, bersihkan hati, ikhlaskan niat. Mulai
pembuatan rencana dengan ungkapan verbal sikap ketundukan kepada Allah
swt., “Bismillahir-Rahmanir-Rahim”.

Secara umum ada 6 tahap mengelola waktu secara efektif dan efesien:

1. Selalu kembali pada misi hidup: mengerjakan sesuatu dengan penuh
semangat dan menolak mengerjakan hal-hal yang tidak penting, tidak
terkait dengan tujuan hidup.

2. Perhatikan peran kita: harus ada keseimbangan dalam mengerjakan peran
sebagai individu, ibu (istri), ayah (suami), pendidik, pekerja.

3. Tetapkan tujuan apa yang ingin kita capai tiap pekan: membantu agar
kita tetap fokus untuk mengerjakan hal yang diperlukan untuk mencapai
tujuan hidup.

4. Perencanaan pekanan: membantu kita untuk membuat prioritas, sekaligus
melakukan hal lain (sediakan waktu untuk persiapan dan perencanaan.
Perbaharui jadwal harian dan pekanan).

5. Lakukan dengan integritas: jika sesuatu terjadi di luar rencana kita,
mana yang harus didahulukan? Berpikir sejenak sebelum memberikan reaksi,
selalu kembali pada tujuan hidup.

6. Evaluasi terus belajar untuk mengatur waktu

Jangan lupa senantiasa budayakan bermusyawarah dalam perencanaan.
Benar., Anda punya kebebasan untuk mewujudkan kepentingan Anda, tetapi
sangat benar orang lain mempunyai kebebasan untuk meraih cita-cita hidup
demi kepentingan dirinya. Karenanya, musyawarah dengan orang di sekitar
Anda merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan cita dan impian Anda.
Selamat bekerja.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s