ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-8)


PERISTIWA HISTORIS DI BULAN RAMADHAN

Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang sangat bernilai historis
dalam Islam, disamping predikatnya sebagai bulan terbaik untuk ibadah
puasa dan lain-lain. Peristiwa-peristiwa historis itu sangat berperan
dalam perkembangan Islam dan penyiarannya. Peristiwa-peristiwa itu
menjadi renungan yang mendalam pada saat kaum mukminin menunaikan puasa.

Inspirasi dan pengaruh yang dipantulkan oleh peristiwa historis itu
selalu memacu semangat kaum muslimin untuk meneruskan risalah Islam ke
seluruh alam. Al-Qur’an adalah tuntunan yang membuka jalur-jalur
kesuksesan dan titian menuju kejayaan serta kemuliaan. Itulah awal
peristiwa historis dalam bulan ramadhan. Hasil tarbiyah Al-Qur’an itu
terbukti dalam perang Badar dan perang penaklukan Mekkah.

1. Pengangkatan Muhammad saw. sebagai Rasul dan awal turunnya Al-Qur’an

Ketika Allah swt. hendak memuliakan Muhammad saw. sebagai Rasul dan
Nabi-Nya, setiap kali Rasulullah saw. hendak membuang hajatnya dan pergi
jauh ke padang pasir, hingga berjarak sangat jauh dari pemukiman dan
beliau telah sampai di lembah-lembah Mekkah, tidak ada pohon dan batu
pun yang beliau jumpai, melainkan selalu mengucapkan salam kepada beliau
dengan,

Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah (utusan Allah swt.)

Kemudian, Rasulullah saw. menengok ke kanan dan ke kiri serta ke
belakangnya. Namun, beliau tidak melihat siapa-siapa, yang ada hanyalah
pohon dan batu. Hal itu berlangsung beberapa lama, hingga Allah swt.
mengutus Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah swt. ketika
Rasulullah saw. berada di gua Hira, dengan turunnya lima ayat pertama
dari surah Al-Alaq,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq:
1-5).

Allah swt. berfirman,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil)…” (Al-Baqarah: 185).

Allah swt. berfirman,

“Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami
menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah
yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang
penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya
Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul” (QS. Ad-Dukhan: 1-5)

Allah swt. berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih
baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam
itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Fajr: 1-5).

2. Perang Badar

Allah swt. berfirman,

“….jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan
kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, …” (QS. Al-Anfal: 41).

Hari itu adalah hari dimana terjadi pertempuran antara pasukan kaum
muslimin melawan orang-orang musyrik di perang Badar. Peristiwa Perang
Badar terjadi pada Jum’at pagi tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah.
Rasulullah saw. keluar bersama para sahabat pada hari Senin, delapan
hari setelah bulan ramadhan masuk.

Rasulullah saw. mengangkat Amru bin Ummu Maktum atau Abdullah bin Ummu
Maktum untuk memimpin shalat orang-orang yang ada di Madinah. Setelah
sampai di Rauha, Rasulullah saw. memerintahkan Abu Lubabah untuk kembali
ke Madinah, dan mengangkatnya sebagai amir selama Rasulullah saw. pergi.

Dalam kisah perang Badar yang diisyaratkan oleh ayat-ayat yang mulia
ini, Muhammad bin Ishaq dengan sanadnya – dalam sirah nabawiyah –
berkata; “setelah Rasulullah saw. mendengar Abu Sufyan akan bertolak
dari Syam, beliau menyemangati kaum muslimin agar menghadangnya, dan
Rasulullah saw. bersabda, “Inilah kafilah dagang Quraisy yang membawa
harta benda mereka. Maka keluarlah kalian untuk menghadangnya, semoga
Allah memberikan harta rampasan kepada kalian”.

Maka orang-orang pun bersegera menyambut seruan itu. Walaupun sebagian
orang ada yang merasa ringan, namun yang lain ada juga yang merasa
berat. Hal itu disebabkan mereka tidak menyangka bahwa Rasulullah saw.
akan menghadapi peperangan.

Ketika dekat dengan wilayah Hijaz, Abu Sufyan telah memerintahkan
mata-matanya untuk mencari dan menyelidiki informasi. Dia juga bertanya
kepada kabilah-kabilah yang berpapasan dengannya, karena khawatir
terhadap kafilahnya. Sehingga, ada sebagian kafilah yang memberitakan
kepadanya, bahwa Muhammad saw. telah meminta para sahabat beliau untuk
mencegatmu dan kafilahmu.

Maka Abu Sufyan pun mengambil ancang-ancang dan berhati-hati setelah
itu. Kemudian, dia mengupah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari untuk diutus
kepada penduduk Makkah agar keluar membela kafilah dagang mereka, dan
mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad saw. bersama para sahabatnya
telah mengancamnya dan mencegatnya. Maka, keluarlah Dhamdham bin Amru
Al-Ghifari segera bertolak ke Makkah.

Sementara, Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat beliau telah sampai
ke suatu lembah, yang dinamakan dengan Dafaran. Lalu Beliau bertolak
darinya, namun di salah satu bagian lembah tersebut, beliau mendapat
khabar bahwa Quraisy telah bertolak ke arah Rasulullah saw. untuk
membela kafilah mereka..

Kemudian, Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabat,
memberitahukan tentang berita dari Quraisy. Maka, berdirilah Abu Bakar
ra., beliau berbicara yang baik. Kemudian, berdirilah Umar bin Khatthab
ra. dan beliau berbicara yang baik.

Lalu berdirilah Miqdad bin Amru seraya berkata, “wahai Rasulullah,
majulah ke arah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada anda, karena
kami akan selalu bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata
seperti Bani Israil berkata kepada Musa, Mereka berkata: “Hai Musa, kami
sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada
di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah
kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS.
Al-Maidah; 24).

Namun, bertolaklah Anda dan Tuhan Anda. Dan berperanglah, karena kami
akan berperang bersama Anda dan Tuhan Anda. Demi Allah, yang telah
mengutus Anda dengan kebenaran, seandainya Anda membawa kami ke Barkil
Gamad’ yaitu suatu kota di Habasyah (Etiopia), maka kami bertahan dan
bersabar bersama Anda untuk menuju kepadanya, hingga Anda mencapainya.”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadanya dengan sabda yang baik dan
mendo’akan kebaikan untuknya, “Berilah pendapat untukku wahai
orang-orang!”. Rasulullah saw. mengarahkan maksud beliau kepada
orang-orang Ansar, – hal itu disebabkan mereka adalah terbanyak
jumlahnya – dan hal itu disebabkan pula oleh baiat mereka kepada
Rasulullah saw. di Aqabah.

Mereka berkata, “wahai Rasulullah saw. sesungguhnya kami bebas dari
perlindungan terhadap diri Anda, hingga Anda sampai ke negeri kami. Bila
Anda telah sampai ke negeri kami, maka Anda telah berada dalam
perlindungan kami. Kami akan melindungi dan membela Anda dari segala
sesuatu yang kami bela, sebagaimana anak-anak dan isteri-isteri kami”.

Rasulullah saw. merasa khawatir bahwa orang-orang Anshar tidak memandang
wajib bagi mereka untuk membela Rasulullah saw. dan menolongnya,
melainkan hanya atas musuh yang menyerang beliau di Madinah, dan bahwa
mereka tidak harus ikut serta menyerbu musuh yang jauh dari negeri Madinah.

Setelah Rasulullah saw. menyatakan sabda tersebut, Sa’ad bin Mu’adz ra.
Berkata, “Demi Allah, seolah-olah Anda menginginkan kami wahai
Rasulullah saw.?”

Rasulullah saw. Bersabda, “benar”.

Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata,

“kami telah beriman kepada Anda dan membenarkan Anda, dan kami telah
bersaksi bahwa risalah yang Anda bawa dan emban adalah kebenaran dan
haq. Kami juga telah memberikan sumpah dan janji kami kepada Anda, bahwa
kami akan mendengar dan mentaati anda. Maka, majulah terus wahai
Rasulullah saw. kemanapun Allah swt. menyuruh Anda.

Karena demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran. Seandainya
Anda menyuruh kami untuk menceburkan diri kami ke dalam lautan ini dan
Anda telah menceburkan diri ke dalamnya, maka kami pun akan ikut
menceburkan diri kami ke dalamnya bersama Anda. Tidak akan ada seorang
pun yang tertinggal.

Kami tidak akan takut dan benci bertemu dengan musuh-musuh kami besok.
Karena sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang sabar dan bertahan
dalam perang, jujur ketika bertempur, dan semoga Allah swt. menampakkan
kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda. Maka bertolaklah bersama
kami dengan keberkahan dari Allah swt.”.

Maka, tampaklah kebahagiaan dalam diri Rasulullah saw. dengan pernyataan
Sa’ad. Hal itu membuat beliau bersemangat, seraya bersabda, “bertolaklah
kalian dengan keberkahan dari Allah swt. dan bergembiralah. Karena
sesungguhnya Allah swt. telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua
kelompok Quraisy, dan demi Allah, seolah-olah aku melihat kehancuran
kaum itu saat ini”.

Perang Badar berakhir setelah bulan Ramadan atau awal dari Syawwal.

3. Penaklukkan Mekkah

Penaklukkan Mekkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke delapan.
Penyebab perang ini adalah terjadinya pertempuran antara Bani Bakar
melawan Bani Khuza’ah. Pemicu pertempuran antara keduanya adalah seorang
dari Bani Al-Khadrami, namanya Malik bin Abbad, yang merupakan sekutu
dari Bani Bakar, keluar untuk berdagang.

Ketika dia sampai ke tanah Khuza’ah, mereka melakukan kejahatan terhadap
Malik bin Abbad, membunuhnya, dan merampas harta bendanya. Kemudian,
Bani Bakar pun membalas dendam dan membunuh salah seorang dari Bani
Khuza’ah.

Permusuhan ini berlarut-larut hingga Islam menjadi penghalang antara
keduanya dalam permusuhan, dan orang-orang lebih tertarik dengan isu
Islam dan dakwahnya. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah antara
Rasulullah saw. dengan Quraisy, syarat-syarat perjanjian yang berlaku
bagi Rasulullah saw. dengan Quraisy juga berlaku atas para sekutu
masing-masing.

Diantara ketentuan syarat perjanjian tersebut; bahwa barang siapa ingin
masuk ke dalam sekutu Rasulullah saw., boleh melakukannya, dan barang
siapa yang ingin masuk ke dalam sekutu Quraisy, dipersilahkan. Bani
Bakar masuk ke dalam sekutu Quraisy dan Bani Khuza’ah masuk ke dalam
sekutu Rasulullah saw..

Bani Bakar merasa ada peluang untuk melakukan pembalasan kepada Bani
Khuza’ah. Naufal bin Mu’awiyah bersama pengikutnya, yaitu pemimpin Bani
Bakar – namun tidak semua Bani Bakar ikut bersamanya – keluar menyerang
Bani Khuza’ah di lembah mereka dan sumur mereka, yaitu Al-Watir. Mereka
membunuh orang-orang yang ada dan terjadilah pertempuran.

Quraisy ikut memasok senjata kepada Bani Bakar, dan dengan
sembunyi-sembunyi mereka juga ikut membantu dalam pasukan Bani Bakar,
hingga mereka berhasil mendesak Bani Khuza’ah sampai ke dekat areal
tanah haram. Dengan perbuatan ini, maka Quraisy telah melanggar salah
satu syarat perjanjian damai, dan dengan demikian mereka telah
memaklumkan perang terhadap Rasulullah saw. dan kaum muslimin.

Rasulullah saw. pun menyiapkan pasukan untuk menyerang Makkah.
Rasulullah saw. keluar bertolak dari Madinah pada hari ke sepuluh bulan
Ramadhan. Rasulullah saw. berangkat dari Madinah dalam kondisi puasa,
demkian pula para pasukan beliau. Namun ketika sampai di Kadid, antara
Asfan dan Amaj, Beliau berbuka, demikian pula para pasukan beliau ikut
berbuka.

Rasulullah saw. berhasil menaklukkan Mekkah dengan gilang-gemilang,
tanpa banyak menumpahkan darah. Allah swt. melukiskan hal itu dalam
firman-Nya,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. maka
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3).

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s