ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-10)


AKRAB DENGAN AL-QUR’AN

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah swt. Isinya merupakan penyempurna dan pengoreksi semua isi kitab suci terdahulu. Dengan diturunkannya ayat terakhir dari Al-Qur’an, berarti terhentilah wahyu dari langit dan berakhirlah pengutusan para rusul ke dunia. Nabi Muhammad saw. sebagai penerima wahyu terakhir tersebut adalah pemungkas para Rasul (QS. Al-Ahzab: 40)

Al-Qur’an merupakan undang-undang langit terakhir yang berfungsi mengubah undang-undang samawi sebelumnya. Apa yang masih dianggap relevan dengan tuntutan zaman masih tersirat dan atau tersurat di dalamnya, karena Al- Qur’an adalah puncak dari perundang-undangan Ilahi dan pemungkas wahyu samawi. Isi kitab samawi sebelumnya yang telah diubah oleh tangan-tangan kotor manusia, dikoreksi dan diluruskan. Undang-udang pokok yang dibutuhkan umat manusia sampai akhir zaman untuk mengatur kehidupannya telah lengkap tercantum dalam Al-Qur’an.(Al Maidah 3)

Al-Qur’an diturunkan berfungsi membenarkan dan meluruskan apa yang ada pada kitab suci sebelumnya serta menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu, untuk dijadikan sebagai risalah universal yang mencakup semua kebutuhan manusia, kapan dan dimana saja mereka berada. (QS. Al-Ma’idah: 48)

1. Kesempurnaan dan Kelengkapan Isi Al-Qur’an

Dalam surat Al-Ma’idah ayat 3 Allah menyatakan,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapkan nikmatKu kepadamu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

Ayat ini menyuratkan dua hal pokok. Pertama, Allah telah menyempurnakan isi Al-Qur’an. Dalam artian dari aspek kualitas, ajaran Al-Qur’an amat sempurna dan tidak terdapat kontradiksi sama sekali. Kedua, Allah telah mencukupkan atau melengkapkan nikmat-Nya kepada Muhammad saw. Diantara nikmat yang paling agung adalah nikmat Islam. Berarti Allah telah melengkapkan ajaran Islam.

Kelengkapan ajaran Al-Qur’an ini ditinjau dari segi kuantitas ajarannya. Menuntut ayat tersebut, ajaran Al-Qur’an telah mencakup semua aspek hukum dan aspek kehidupan manusia. Sebagaimana yang ditegaskan Allah, “Tidak satu pun yang Kami abaikan dalam Al-Qur’an ini” (QS. Al-An’am: 38).

Para ahli tafsir mengatakan maksud ayat ini, bahwa Allah tidak meninggalkan sedikit pun masalah-masalah agama dalam Al Quran. Allah telah menjelaskan semuanya, baik dengan terperinci maupun secara global yang diterangkan oleh Rasulullah saw. atau ijma’ dan qiyas. (Al Jami’ Li ahkaamil Quran, Al Qurthubi, juz VI hal 420)

Dalam ayat lain ditegaskan, ”Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an untuk menerangkan segala sesuatu”. (Al Jami’ Li ahkaamil Quran,Al Qurthubi, juz X hal 164)

Menurut ayat-ayat tersebut, segala sesuatu sudah ada dan diatur oleh Allah swt. dalam Al-Qur’an. Bagi orang yang mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ada dalam Al-Qur’an, akan sempurna merasakan nikmat Allah dalam penghidupan dan kehidupan di atas dunia ini.

Kalau kita bawa maksud Al-Qur’an ini kepada suatu konotasi yang lebih sempit, yaitu pedoman hidup dan hukum, maka Al-Qur’an merupakan pedoman hidup dan aturan hukum yang sempurna dan lengkap. Tidak ada lagi aturan atau hukum pokok yang dibutuhkan manusia yang tertinggal. Apabila manusia berpedoman pada Al-Qur’an, mengikuti dan menjalankan peraturan-peraturan hukum yang ada di dalamnya, maka akan sempurnalah nikmat kehidupan umat manusi di dunia ini. (Al Jami’ Li Ahkaamil Quran, Al Qurthubi, juz VI hal 420)

2. Manusia Membutuhkan Petunjuk Al-Qur’an

Totalitas dan kesempurnaan ajaran yang dimiliki Al-Qur’an menuntut peganutnya agar komitmen terhadap Islam secara total. Seorang muslim tidak boleh mengambil satu aspek saja dari ajarannya, akan tetapi ia harus mengambil semua aspek dari ajaran-ajaran Islam secara utuh. Al-Qur’an mencela Bani Israil yang menerima sebagian ayat dan menolak sebagian yang lainnya sesuai dengan kemauan dan hawa nafsu mereka. (QS. Al-Baqarah: 85).

Untuk menghadapi era globalisasi sekarang ini, manusia amat membutuhkan petunjuk Al-Qur’an, karena kebutuhannya melebihi kebutuhan umat manusia terdahulu. Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita amat membutuhkan petunjuk Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw. untuk membebaskan ummat manusia dari kegelapan menuju cahaya hidup yang terang benderang (QS. Ibrahim: 1). Dan sebagai pedoman hidup penuntun ummat manusia ke jalan kehidupan yang lurus (QS. Al-Baqarah: 183 dan QS. Al-Isra’: 9). Mengikuti petunjuk Al-Qur’an adalah jaminan kebahagiaan pribadi dan masyarakat, kebahagiaan dunia dan akhirat, karena pembuat petunjuk itu adalah Pencipta dan Yang Maha Tahu tentang ciptan-Nya.

Pedoman dan petunujuk hidup itu berlaku bagi seluruh ummat manusia, baik bagi orang Arab manupun orang non Arab, baik orang pandai ataupun orang biasa, baik kelas atas, menengah, atau pun kelas bawah. Oleh karena itu, Allah swt. Yang Maha bijaksana menurunkan Al-Qur’an ini dengan uslub yang mudah, yang dapat difahami oleh ummat manusia. Bahkan, Al-Qur’an sendiri mengulang-ulang pernyataan ini empat kali dalam satu surat Al-Qamar: 17, 22, 32 dan 40 sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar : 17, 22, 32 dan 40)

Para sahabat Nabi dengan berbagai macam jenis kemampuan penalaran mereka, dengan mudah memahami, mencerna, dan mengamalkan Aquran, karena mereka siap mendengar, menerima, dan mentaatinya. Namun, Rasulullah saw. pernah mengadu kepada Allah swt. tentang sikap kaumnya terhadap Al-Qur’an ini, sebagaimana direkam oleh Al-Qur’an sendiri:

“Dan Rasul berkata (mengadu): Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqaan: 30).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa tidak beriman dan tidak membenarkan Al-Qur’an termasuk “mahjura”. Tidak mentadabburi (menelaah) dan tidak memahaminya adalah termasuk “mahjura”. Tidak mengamalkannya dan tidak melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya adalah termasuk “mahjuro”.

Pengaduan itu terhadap kaumnya yang memusuhi Aquran (orang-orang kafir), bagaimana kalau terjadi pada ummatnya sendiri!!!

3.      Berinteraksi dengan Al-Quran dan Mentadabburinya

Ada empat macam cara interaksi dengan Al-Qur’an :
1. Tilawah (membacanya).
2. Tadabbur (menelaahnya).
3. Hifzh (menghafalnya).
4. Al-amal bihi (mengamalkannya).

Tadabbur (penelaahan) Al-Qur’an diperintahkan oleh Allah swt. dan salah satu cara berinteraksi (ta’amul) dengan Al-Qur’an. Allah swt. berfirman, “Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapatkan pelajaran” (QS. Shaad: 29). “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkuci?” (QS. Muhammad: 24 ).

Tadabbur adalah salah satu cara untuk memahami Al-Qur’an. Kitab-kitab Tafsir yang kita kenal dan kita baca sekarang adalah hasil usaha yang optimal dari para ulama dalam mentadabburi dan memahami Aquran.

Tadabbur menurut bahasa berasal dari kata ????? yang berarti menghadap, kebalikan membelakangi. Tadabbur menurut ahli bahasa Arab adalah ??????????? memikirkan. Maka, tadabbur bisa berarti memikirkan akibat dari sesuatu atau memikirkan maksud akhir dari sesuatu. Sedangkan, tadabbur menurut istilah adalah “penelaahan universal yang bisa mengantarkan kepada pemahaman optimal dari maksud suatu perkataan “.

Namun, tadabbur itu sendiri terikat dengan mengamalkannya, karena para Salafushshalih mengartikan tadabbur dan tilawah yang sungguh-sungguh (QS. Al-Baqarah: 121) dengan mengamalkannya. Jadi, pengertian tadabbur adalah, “Usaha memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca atau didengar dengan disertai kekhusyukan hati dan anggota badan serta dibuktikan dengan mengamalkannya”.

Untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melakukan tadabur yang optimal membutuhkan kiat-kiat sebagai berikut:

1. Memperhatikan Adab atau Sopan-santun dalam Tilawah.

Supaya tilawah Al-Qur’an memberikan manfaat dan buah serta menghasilkan dampak positif dan istiqamah, perlu diperhatikan adab dan sopan santun ketika membaca Al-Qur’an antara lain:

a.      حسـن النيـة (motivasi yang baik), keihklasan, totalitas hanya untuk mendapatkan ridha Allah swt.
b.      الاستعاذة والبسـملة (dimulai dengan Isti”adzah dan Basmalah) karena hal tersebut diperintahkan oleh Allah (QS. An-Nahl: 98 ).
c.      الطهـارة (kesucian) hati dan jasad, suci lahir dan batin.. Bahkan dianjurkan membaca Al-qur’an itu dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil.
d.      تـفـريغ النفـس عن شـواغلـها (tidak disibukan dengan selain Al-Qur’an).
e.      حصـر الفـكـر مع القـرءان (konsentrasi penuh dengan Al-Qur’an)
f.      اختـيار الأوقـات والأمـاكن المـنـاسبـة (memilih waktu dan tempat yang cocok).

2. Memperhatikan cara-cara Talaqqi ( menerima pelajaran ).

a.      التـلقي بالقلب الخاشـع (menerimanya dengan hati yang khusyuk).
b.      التـلقي بالـتـعظيـم (menerimanya dengan rasa takzim) seperti halnya seorang prajurit mendapatkan perintah dari komandannya atau seorang hamba sahaya mendapat perintah dari majikannya.
c.      التـلـقي للتـنـفيـذ (menerimanya untuk dilaksanakan).

3. Memperhatikan Tujuan Pokok dari Al-Qur’an.

Ketika mentadabburi Al-Qur’an, hendaknya terhujam dalam benak kita tujuan pokok dan essensi diturunkannya Al-qur’an, yang antara lain:
a.      Petunjuk jalan menuju kepada Allah swt. bagi setiap individu ataupun bagi seluruh ummat manusia.
b.      Merealisasikan pembentukan pribadi muslim yang sempurna dan yang seimbang.
c.      Merealisasikan masyarakat Islam berwawasan Al-Qur’an.
d.      Membimbing ummat dalam pergumulannya dengan situasi jahili yang berada disekelilingnya.

4. Mengikuti Jejak Langkah Para Sahabat dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an.

a.      Pandangan yang universal terhadap Al-Qur’an.
b.      Melepaskan segala bentuk prasangka sebelum masuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.
c.      Penuh keyakinan akan benarnya nash-nash Aquran.
d.      Merasakan bahwa ayat yang dibaca atau didengar adalah ditujukan kepadanya.

5. Berusaha Hidup dalam Ruh Al-Qur’an.

a.      Tidak bertele-tele dalam memahaminya.
b.      Menjauhkan cerita-cerita Israiliyyat.
c.      Melepaskan nash-nash Al-Qur’an dari keterikatan dengan tempat dan waktu.

6. Dibantu dengan disiplin Ilmu-ilmu lain.

a.      Menguasai pokok-pokok ulumul Qur’an.
b.      Memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
c.      Melepaskan perbeadaan-perbedaan penafsiran para ulama tafsir dan kembali kepada makna hakiki dari Al-Qur’an.
d.      Diperluas dengan penguasaan Sirah Nabawiyah dan Sejarah kehidupan para Sahabat.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s