ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-11)


KALA DOA TAK LAGI DITOLAK

Salah satu karakteristik bulan suci Ramadhan adalah ia dikenal juga
dengan Syahrud Du’a, bulan terkabulnya doa. Hal ini sebagaimana
ditegaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan Ubadah
bin Ash-Shamit ra., beliau memberi berita gembira kepada para sahabatnya
dengan sabdanya,

أتاكم رمضان شهر بركة يغشاكم الله فيه فينزل الرحمة ويحط الخطايا ويستجيب
فيه الدعاء. ينظر الله تعالى إلى تنافسكم فيه ويباهي بكم ملائكته فأروا الله من
أنفسكم خيراً فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh dengan keberkahan yang
dicurahkan Allah kepada kalian, maka Ia menurunkan rahmat-Nya di
dalamnya, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan di dalamnya doa. Allah
swt. melihat kepada antusias atau semangat kalian dalam (mengisi)
Ramadhan, dan membangga-bangakan kalian di hadapan para malaikat-Nya.
Untuk itu perlihatkan kebajikan memancar dari diri kalian, sebab
sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan atau
dijauhkan rahmat Allah di bulan Ramadhan”. (HR Ath-Thabari).

Sesunguhnya inilah kesempatan emas untuk banyak memohon kebaikan dunia
dan akhirat kepada Allah swt. Semua obsesi dan keinginan kita tumpah
ruahkan kehadirat Ilahi di bulan suci ini. Sebab, orang yang berpuasa
memiliki senjata pamungkas yang tak terkalahkan dan pasti diijabahi,
yaitu doa.

Rasulullah saw. bersabda,

إن للصائم عند فطره دعوةً ما تُرد

“Sesugguhnya orang yang berpuasa di saat berbuka puasa memiliki doa yang
tidak akan ditolak” (HR Ibnu Majah).

Kenapa begitu? Karena orang yang berpuasa hatinya tunduk, jiwanya
pasrah, dan sangat dekat dengan Rabbnya serta patuh kepada-Nya. Ia
sengaja meninggalkan makan dan minum dalam rangka taat kepada Allah swt.
Ia berusaha keras mengekang keinginan syahwatnya sebagai bentuk
ketundukan yang paripurna terhadap Allah swt.

Begitu kuatnya korelasi antara bulan Ramadhan dengan doa, maka di
sela-sela penjelasan tentang kewajiban puasa Ramadhan dan hukum-hukum
yang terkait dengannya dalam surat Al-Baqarah 183-187, Allah swt. justru
menengah-nengahinya dengan penjelasan tentang doa. Bukan shalat, bukan
zakat, juga bukan haji atau syahadat yang disinggung, melainkan doa.
Allah swt. berfirman,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah:
186).

Ayat ini didahului dengan ayat-ayat yang menjelaskan tentang puasa (QS.
Al-Baqarah: 183-185) dan diakhiri dengan ayat yang terkait dengan puasa
pula (QS Al-Baqarah: 187). Tentunya kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa
penyusunan urutan ayat-ayat tersebut bukan tanpa hikmah. Salah satu
hikmah yang bisa kita tangkap adalah urgensi dan posisi doa bagi orang
yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Ayat tersebut turun dilatarbelakangi oleh pertanyaan seorang badui
(orang dusun) yang bertanya kepada Nabi saw.,

“Ya Rasulullah, apakah Rabb kita dekat sehingga cukup kita bermunajat
(berbisik atau berucap pelan), ataukah Ia jauh hingga harus kita panggil
(dengan keras)?” Nabi Saw diam, lalu Allah swt. menurunkan ayat 186 dari
surat Al-Baqarah tersebut (Tafsir Ibnu Katsir I/196).

Agar doa kita dikabulkan oleh Allah swt., maka kita mesti mengetahui dan
memperhatikan syarat, etika, dan sebab-sebab terkabulnya doa, yang tentu
saja tidak mungkin dibahas secara rinci di sini. Namun demikian, di
dalam ayat di atas sesungguhnya Allah swt. secara implisit telah
menyinggung 2 (dua) syarat terkabulnya, yaitu:

1- “Fal yastajiibuuli”.

Berusaha secara maksimal memenuhi segala perintah Allah swt. Sebab,
bagaimana akan dikabulkan doa kita, jika saat kita berdoa kepada Allah
swt., ternyata pada saat yang sama kita juga bermaksiat kepada-Nya.

2- “Wal yu’minuubi”.

Mengimani Allah swt. dengan sebenar-benarnya. Termasuk di sini adalah
mengimani dan tsiqah (percaya) dengan pemberian dan karunia Allah swt.

Karena itulah Rasulullah saw. melarang seseorang berdoa kepada Allah
dengan mengatakan:

????? ?????? ?? ???

“Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku jika Engkau kehendaki” (HR Muslim).

Dalam kehidupan seorang muslim, doa sangat erat kaitannya dengan
kwalitas dan ubudiyah (pengabdian)nya kepada Allah swt. Dengan doa
kesempurnaan ubudiyah seorang hamba kepada Allah swt. benar-benar dapat
terealisasi.

Doa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat bagi kehidupan seorang
muslim, apalagi saat berdoa ia dalam keadaan berpuasa. Doa akan
menjanjikan faedah-faedah duniawi dan ukhrawi, di antaranya:

1. Ibadah kepada Allah swt., tunduk dan patuh kepada-Nya. Dan inilah
hakekat tujuan ibadah dan buahnya.

2. Sebagai asset ukhrawi, tabungan pahala di sisi Allah di akhirat nanti
manakala tidak dikabulkan permohonannya di dunia. Tentu saja ini lebih
bagus dan lebih bermanfaat.

3. Dengan berdoa kepada Allah sesungguhnya kita telah memurnikan dalam
mentauhidkan-Nya. Sebab, saat itu kita telah memutus ketergantungan kita
kepada manusia dan tamak terhadap apa yang dimilikinya.

Nah, haruskah kita sia-siakan lagi hari-hari Ramadhan ini dengan
melewatinya tanpa satu permohonan apa pun yang kita minta kepada Allah,
padahal inilah saatnya doa tak lagi ditolak!!?

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s