ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-15)


MEMBANGUN TAKWA POLITIK DENGAN RAMADHAN

Menurut Bapak sosiologi Islam, Ibnu Khaldun, panggung politik dan
kekuasaan adalah posisi yang banyak diidam-idamkan orang karena
kenikmatannya. Di dunia politik ini, terkumpul segala macam kenikmatan,
dari harta kekayaan yang berlimpah, kepuasan karena terpenuhinya
kebutuhan fisik, dan kenyamanan psikologi (karena selalu dihormati).
Karena kenyamanan ini, banyak orang bersaing untuk mendapatkannya. Dan
kalau sudah berkuasa, sangat sedikit yang dengan sukacita menyerahkannya
kepada orang lain.

Karakter inilah yang barangkali bisa menafsirkan kita kepada sebuah
fenomena kenapa mayoritas penguasa diturunkan dengan cara yang tidak
formal, dan kenapa banyak pejabat mengalami post power syndrome saat
turun dari jabatannya. Salah satu penyebab jeleknya citra politik di
mata mayoritas adalah karena banyak penguasa yang berbuat semena-mena
dengan lawan politiknya demi mempertahankan kekuasaannya.

Benarkah politik itu sejatinya kotor, ataukah kekotoran itu adalah
benalu kekuasaan di saat penguasa sudah lupa dengan tujuan semula saat
dilantik menjadi pemimpin?

Dengan penuh keyakinan, penulis menyatakan bahwa politik adalah salah
satu agenda penting dalam dakwah. Politik adalah keniscayaan dalam
mewujudkan totalitas beragama, dan politik adalah salah satu cara untuk
menggapai taqwa. Tetapi dunia ini sangat rentan godaan, sehingga
memerlukan energi besar agar praktisinya tidak mudah terjangkiti oleh
virus-virus politik kotor.

Lalu, apa kaitan Ramadhan dengan taqwa? Benarkah Ramadhan bisa menjadi
solusi carut marutnya dunia perpolitikan? Mampukah Ramadhan menciptakan
taqwa di sektor politik?

Mencermati pernyataan Ibnu Khaldun di atas, penulis akan menggali sejauh
mana Ramadhan mampu membangun karakter taqwa di dunia politik. Tulisan
ini menyoroti dua sudut: Pertama, masyarakat terhadap penguasa, dan
kedua, penguasa yang menjalankan roda pemerintahan.

1. Masyarakat yang menentukan pilihan politik

Masyarakat memiliki peran penting dalam membangun budaya taqwa dalam
politik. Masyarakat yang bertaqwa, tidak akan membiarkan pemimpinnya
berbuat semena-mena. Dalam pidato politik saat dikukuhkan menjadi
Khalifah Islam setelah Rasulullah, Abu Bakar sadar betul bahwa kekuasaan
mudah menyeret seseorang kepada penyelewengan.

Karenanya, beliau meminta masyarakat – yang pada saat itu mayoritas
bertaqwa – untuk memantau kinerja kepemimpinan beliau. Dalam pidatonya
yang singkat beliau berkata,

إني وليت عليكم ولست بخيركم .فإن أحسنت ، فأعينوني ، وإن أسأت فقوموني ، الصدق
أمانة ، والكذب خيانة …

“Sesungguhnya aku sekarang telah diangkat untuk menjadi pemimpin kalian,
padahal aku sadar bahwa aku bukanlah orang yang terbaik di antara
kalian. Jika aku profesional, maka dukunglah kinerjaku, tapi jika aku
asal-asalan, maka luruskan diriku. Kejujuran adalah amanah, dan
kebohongan adalah pengkhianatan… ”.

Salah satu cara membentuk masyarakat taqwa adalah dengan metode
Ramadhan. Ramadhan secara intensif melatih masyarakat muslim untuk
mencintai nilai-nilai kebaikan, mampu menahan nafsu untuk tidak
melakukan perbuatan keji. Bersemangat melaksanakan shalat secara
berjamaah, dan berani menegur imamnya jika melakukan kekeliruan.

Ramadhan yang sukses juga akan menekan persoalan bangsa yang sangat akut
sekarang ini, yaitu korupsi. Karenanya, permasalahan serius yang
disoroti Allah pasca ayat-ayat tentang Ramadhan adalah problematika
korupsi, yang dalam ajaran Allah pemberantasannya baru akan efektif
manakala dilakukan oleh orang-orang yang bertaqwa. Allah berfirman,

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di
antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa
(urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian
daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal
kamu mengetahui” (Al-Baqarah: 188).

Ramadhan sangat intensif mengenalkan nilai-nilai kebaikan untuk
masyarakat. Nilai-nilai yang diperkenalkan sangat bervariasi, mulai dari
kedisiplinan, kejujuran, keikhlasan, melatih sikap empati, sampai kepada
pengenalan hak-hak pemimpin dan yang dipimpin.

Kedisiplinan dikenalkan lewat jadwal berbuka dan imsak, kapan boleh
makan dan minum dan kapan tidak boleh; kapan waktu berangkat ke masjid,
dan jam berapa harus bangun sahur. Kejujuran diasah lewat kesportifan
orang untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, meskipun
tidak ada satu pun orang yang tahu dia melakukannya. Keikhlasan tumbuh
dari praktek puasa yang tidak mungkin diketahui orang lain, kecuali
kalau kita sendiri yang menceritakannya.

Ramadhan melatih kita untuk lebih peduli terhadap sesama dengan program
memberi makan orang yang berpuasa, memperbanyak infaq, sedekah, dan
zakat. Ramadhan juga mengajarkan kita bagaimana memilih pemimpin dalam
shalat, kapan harus menaatinya, dan bagaimana menegurnya jika berbuat
kesalahan.

Masyarakat Ramadhan dengan karakteristik di atas tidak mungkin tertarik
memilih pemimpin yang tidak seirama dengan mereka, hanya karena tampilan
fisik calon pemimpin, atau karena teror money politics. Mereka telah
terbiasa dengan sukarela tidak makan seharian selama sebulan tanpa
dibayar dengan uang. Andaikan ada yang ingin membayar mereka agar
membatalkan puasa, mereka pasti tidak akan melakukan itu.

Masyarakat Ramadhan juga tidak akan segan-segan memberikan peringatan
kepada pemimpin yang salah. Mereka sangat sadar bahwa pilihan mereka
harus mendukung nilai-nilai ketaqwaan yang telah mereka bangun dengan
susah payah, sebagaimana mereka merasa tidak nyaman di saat shalat di
belakang imam yang bacaan serta sikapnya tidak baik.

Masyarakat Ramadhan juga tidak akan melanjutkan tradisi korupsi yang
telah beranak-pinak. Mereka adalah orang pertama yang akan menghapus
tradisi ini. Selama Ramadhan, mereka telah dilatih untuk memakan makanan
yang halal dan thayyib, dan tidak akan korupsi pada saat berbuka dan
sahur. Mereka tidak berani untuk berbuka sebelum waktunya, demikian juga
dengan makan setelah waktu sahur lewat.

Dengan sikap seperti itu, penguasa yang punya niat korupsi akan berfikir
seribu kali untuk melakukannya, lantaran masyarakatnya tidak mendukung,
bahkan akan mengadilinya. Suburnya korupsi di negeri ini adalah akibat
banyaknya pejabat yang korup yang berkolaborasi dengan pengusaha atau
rakyat yang membutuhkan bidang yang digarap oleh pejabat.

2. Penguasa yang Menjalankan Roda Pemerintahan.

Godaan kekuasaan sangat besar, baik harta, tahta maupun wanita. Penguasa
sangat rentan dengan godaan harta. Banyak pengusaha yang siap menanamkan
investasi jasa keuangannya jauh-jauh hari sebelum menjadi penguasa,
dengan harapan nanti kalau berkuasa akan mendapatkan proyek-proyek besar.

Kalau tidak berhasil mendekati penguasa atau calon penguasa, mereka coba
masuk dari jalur keluarga, baik istri maupun anak-anak mereka. Banyak
sudah pemimpin yang harus turun dari jabatannya lantaran skandal
korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarga
mereka.

Pejabat juga sangat rentan dengan godaan wanita. Betapa banyak pemimpin
yang harus meninggalkan tahtanya gara-gara terlibat skandal dengan
wanita simpanan. Betah dengan tahta adalah godaan lain yang melekat
kental di sebagian penguasa. Demi mempertahankan tahtanya, dia
singkirkan lawan-lawan politiknya dengan berbagai macam cara. Ada yang
dicampakkan ke dalam sel, ada yang diasingkan, bahkan ada yang dihabisi
nyawanya.

Tetapi pejabat yang telah dicelup dengan nilai Ramadhan dan sukses dalam
prosesnya, Insya Allah lahir dengan tampilan yang berbeda. Ramadhan
tidak hanya diwajibkan kepada masyarakat kecil, tetapi juga menyentuh
kalangan pejabat. Ramadhan mengajarkan mereka untuk berhias dengan sifat
jujur, cinta masjid, merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta,
memperkecil nafsu serakah terhadap dunia, hati-hati dengan godaan lawan
jenis, siap menerima kritik, memberantas korupsi dan lainnya.

Kejujuran tumbuh dari terlatihnya mereka berpuasa tanpa harus berbuka,
meskipun tidak dilihat oleh orang lain. Mereka juga sering ke masjid
menyatu dengan rakyatnya untuk sama-sama shalat berjamaah. Seringnya
mereka beribadah, insya Allah menjadikan mereka semakin merasakan
kedekatan kepada Allah. Sehingga nafsu serakah dunia dan hebatnya godaan
syahwat menjadi jinak dan terkendali..

Penguasa yang bertaqwa seperti di atas, akan membawa dampak positif buat
diri, keluarga, dan rakyatnya. Pemimpin yang lulus puasa Ramadhan adalah
pemimpin yang salih secara pribadi, rajin beribadah, jujur, berdedikasi
tinggi, siap menerima kritik membangun, tidak tergiur oleh berbagai godaan.

Pemimpin yang lulus ujian Ramadhan adalah pemimpin yang berwibawa di
dalam keluarganya, menjadi contoh buat isteri dan anak-anaknya, dan
menciptakan lingkungan rumah yang kondusif buat ibadah kepada Allah. Ia
adalah pemimpin yang selektif memilih bithanahnya (orang dekatnya)
sehingga selalu mengingatkannya jika terjadi kekeliruan. Ia juga akan
mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung terwujudnya nilai-nilai
taqwa dalam kehidupan.

Di antara wujud nilai taqwa dalam kehidupan sehari-hari yang akan
digulirkan oleh pemimpin jenis ini adalah: Gerakan Peduli Pemuda,
Gerakan kembali mencintai masjid, menghidupkan nilai-nilai ukhuwah
terhadap sesama, gerakan sumbangan sukarela dalam membangun kekuatan
ekonomi negara, gerakan anti pornografi, gerakan menghidupkan malam
dengan ibadah.

Gerakan peduli pemuda tumbuh dari kesadaran pemimpin dalam merespon
perintah Allah untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
Kealfaan memperhatikan perkembangan pemuda berakibat fatal bagi kualitas
keberagamaan mereka, sekaligus menjadi ancaman serius bagi
keberlangsungan suatu negara.

Sedangkan gerakan kembali cinta masjid, muncul dari kenikmatan yang
mereka dapatkan di saat sholat berjamaah dan merasakan dampak positifnya
berkumpul di masjid jika dibandingkan dengan berkumpul di tempat-tempat
keramaian yang lain. Nilai-nilai ukhuwah terbangun dengan seringnya
berkumpul bersama di dalam tempat yang suci.

Sumbangan sukarela dapat digerakkan karena rakyat melihat bahwa pemimpin
mereka juga mengeluarkan infaq, sedekah, sama seperti yang mereka
lakukan. Sedangkan gerakan anti pornografi dapat efektif karena
pemimpinnya tidak pernah terperangkap dalam jerat ini dengan energi
besar dari Ramadhan. Dan, gerakan mengisi keheningan malam dengan
ibadah, mereka gulirkan saat merasakan betapa indahnya shalat tahajjuad
dan i’tikaf di hari-hari akhir Ramadhan.

Ramadhan yang menyentuh kutub pemimpin di satu sisi dan masyarakat di
sisi yang lain, akan melahirkan ketaqwaan dari keduanya sekaligus.
Pemimpin yang bertaqwa akan menggulirkan kebijakan-kebijakan yang
menopang terealisasinya ketaqwaan di masyarakat. Dan, masyarakat yang
bertaqwa akan menjadi pengawas berlangsungnya nilai-nilai ketaqwaan di
kalangan elit.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s