ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-17)


MEMBANGUN TAKWA DALAM SENI DI BULAN RAMADHAN

Esensi seni adalah ungkapan keindahan yang dirasakan dalam hati, dalam
bentuk tulisan, kata-kata, gambar atau suara, dan sebagainya.

Dalam menuntut kreativitas budaya manusia, Al-Qur’an dan Al-Hadits hanya
memberikan petunjuk secara umum. Bahkan sering memberikan
isyarat-isyarat tertentu yang pengembangannya diserahkan kepada manusia,
termasuk kebudayaan (hasil karya akal budi manusia). Allah swt. telah
membekali manusia dengan akal budi, justru untuk mengembangkan
aspek-aspek kehidupan yang diatur secara rinci dalam Wahyu Ilahi.
Sebagai perbandingan silakan tadabburi ayat 6 surat Ath-Thur:

“Dan laut yang di dalam tanahnya ada api” (Ath-Thur: 6).

Ayat ini menerangkan bahwa di bawah laut ada api. Secara kontekstual
menjelaskan bahwa di bawah laut ada energi. Ternyata sesuai dengan bukti
ilmiah bahwa di dalam laut ada minyak dan gas bumi yang merupakan sumber
energi utama.

Dalam surat Al-Hadid ayat 25 Allah berfirman,

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu)
dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan
rasul-rasu-lNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha
Kuat lagi Maha Perkasa” (al-Hadid: 25).

Realitanya sesuai dengan bukti ilmiah bahwa besi logam yang mengandung
magnet elementer, sebagai sumber listrik.

Demikian pula halnya dengan masalah kesenian, Islam hanya memberikan
isyarat umum tentang kesenian, ketika Rasulullah saw. bersabda,

Åä Çááå Ìãíá íÍÈ ÇáÌãÇá

“Allah itu Indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim).

Maksudnya, jika esensi kesenian adalah pengungkapan rasa indah, maka
Allah swt. tidak melarang kegiatan-kegiatan bernuansa seni. Namun
masalahnya adalah: Seni Islam yang mana dan kesenian yang bagaimana?

Seni yang diperkenankan bahkan diridhai Allah swt. ialah seni yang
mengungkapkan sikap pengabdian kepada Allah swt. “Seni menjadi Islami
jika ia mengungkapkan pandangan hidup muslim”. Karena tidak ada seni
tanpa melalui hubungan batin antara seni dan spiritualitas senimannya
atau penikmat seni itu. Maka, dapat dikatakan bahwa “Seni Islam” timbul
dari realitas Spiritual Islam yang menjelma dalam bentuk indrawi dan
menjadi faktor untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Inti realitas spiritual Islam adalah kesadaran akan keesaan Allah yang
dicontohkan Nabi Ibrahim as. sebagaimana dalam firman Allah swt.,

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik (kalimat Tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya
teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya
pada tiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpmaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”
(Ibrahim: 24-25).

Ayat di atas menjelaskan bahwa iman seorang mukmin di samping berfungsi
sebagai perisai dirinya dari malapetaka hidup dan kehidupan, ia juga
merupakan simbol pohon kehidupan yang mendasari semua kegiatan hidup
muslim..

Dengan kata lain, bahwa setiap aktivitas hidup seorang mukmin hendaknya
dilandaskan pada nilai-nilai iman, agar tidak keluar dari rel dan jalur
semestinya. Termasuk seni, tanpa adanya rambu-rambu yang meneranginya,
seni dapat menjerumuskan pelakunya ke jurang kenistaan. Karenanya, tidak
ada dalam kamus Islam istilah “art for art” seni untuk seni. Yang ada
adalah “seni untuk menunjukan pengabdian dan ketaatan kepada sang Khaliq”.

Seni yang merupakan refleksi asli kejiwaan setiap anak manusia, juga
memerlukan kontrol sosial. Sebab, tanpa kontrol sosial terhadap seni,
tidak jarang orang ‘mabuk’ seni. Seakan-akan seni adalah hidupnya,
aktivitas seni bagai segala-galanya, ia lupa diri bahwa di sisi kanan
kirinya, bahkan di atas dan di bawahnya ada yang mengintainya yakni
kehidupan sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri, kebebasan jiwanya
ditemani dengan kebebasan lain dari lingkungan sosialnya. “Kebebasan
beraktivitas seninya berakhir saat dimulai kebebasan orang lain”.

Fungsi sosial seni sering terabaikan. Seni selayaknya berperan juga
sebagai alat kontrol dan penggugah nurani serta rasa keadilan. Tapi
sangat disayangkan, peran-peran itu kurang berjalan dengan baik. Seniman
dan penikmat seni hanya berseni pada aspek keindahan atau asyik dengan
karya seninya, tidak mau repot ikut menjalankan kontrol sosial dan
mendidik masyarakat. Bahkan tidak memberi kontribusi bermanfaat bagi
masyarakat.

Ironisnya, mereka menampilkan seni destruktif dan arogan di balik tameng
“art for art”, kebebasan berkreasi dan berimajinasi. Dalam bidang seni
lukis atau seni rupa, ada buku “Syuga” berisi foto-foto bugil Dewi
Sukarno. Farah Fawcett dengan foto-foto bugilnya di majalah Play-Boy.
Dalam dunia perfilman, ada fenomena penolakan kritik terhadap adegan
ranjang, karena tuntutan artistik dalam sinematografi.

Dalam dunia musik dimunculkannya lagu-lagu ‘cengeng’ dan ‘murahan’,
musik yang memekakkan gendang telinga dan membutakan mata hati. Dalam
sastra, karya Ki Panji Kusmin “Langit Makin Mendung” berisikan pelecehan
terhadap nilai-nilai agama. Di dunia internasional kita mendengar nama
Taslima Nasrin dari Bangladeh mengikuti jejak Salman Rushdi, yang
membuat heboh dunia Islam dengan karyanya “The Satanic Verses”.

Seni bukan segala-galanya dalam kehidupan muslim. Seni tidak dilarang
oleh Islam, tetapi Islam mengarahkan seni agar lebih bernilai dan
bermakna bagi keimanan dan keislaman setiap muslim. Maka, seni
ditempatkan dalam domain tahsiniah (suplemen), bukan dalam domain
hajiyah (skunder) apalagi dharuriyah (primer).

Dari sini, kita dapat pahami bahwa seni hendaknya mengikuti
aturan-aturan Ilahiyah yang menempatkan seni pada kategori “mubahat”
(sesuatu yang dibolehkan, namun tidak bernilai “laghw” (sia-sia belaka).
Karena ada masalah-masalah yang lebih penting dari soal seni yang
berstatus suplemen; di sana ada masalah primer dan sekunder yang harus
diperhatikan oleh setiap muslim dalam kehidupan.

Sebagai contoh, model seni adalah nash-nash hadits yang berisi ancaman
terhadap alat musik dan penggunaannya cukup memberikan peringatan keras,
yang harus disikapi dengan berhati-hati dalam menggunakan alat musik.
Selain adanya nash-nash hadits yang menjelaskan rukhsah penggunaan alat
musik seperti “duff” (rebana) pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Ikhtilaf di kalangan ulama tentang musik dan lagu hendaknya dihargai.
Sebab, ikhtilaf di antara mereka sebenarnya dalam hal penggunaan alat
musik dan lagu yang tidak mendatangkan mudharat dan dalam tempat serta
suasana yang tidak bernuansa maksiat. Selain itu, mereka sepakat bahwa
musik yang dimainkan atau lagu yang didendangkan untuk dan dalam
kondisi, suasana atau tempat maksiat tidak dibenarkan syariat Islam.

Ramadhan merupakan bulan yang sangat cocok untuk banyak merenung sambil
mengevaluasi diri, agar aktivitas seni yang dijual dan ditayangkan serta
dipersembahkan kepada masyarakat hendaknya diarahkan kepada seni yang
konstruktif. Seni yang memainkan peran kontrol sosial bagi kehidupan
bangsa dan negara.

Seni yang mengingatkan nurani agar senantiasa melakukan yang terbaik
bagi hidup dan kehidupan. Seni yang melembutkan sikap dan perilaku para
pelaku kehidupan berbangsa. Seni yang menggugah nurani para pemimpin
bangsa agar selalu berorientasi pada kepentingan negara. Seni yang
mengingatkan nurani masyarakatnya agar senantiasa bersikap dewasa dalam
mengkritisi para negarawan kita.

Ramadhan hendaknya dapat dimanfaatkan untuk mentakwakan seni bagi
kehidupan, agar menjadi seni yang bermoral, bermartabat, bahkan menjadi
seni yang diridhai, tidak hanya oleh masyarkat yang cinta damai, tetapi
lebih penting lagi dicintai dan diridhai oleh Allah swt.

Anda boleh bersyair ria, tetapi bukan syair yang diungkapkan seorang Abu
Nawas:

“jangan kau hina diriku, karena penghinaan itu tipuan obati diriku
dengan dirinya (pacarnya) sebagai obat”.

Atau kata-kata Penyair Arab Syauqi :

“Ramadhan telah memalingkan dirinya (pacarnya) wahai pendambanya yang
senantiasa rindu, mencari kerinduannya”

Atau lebih buruk lagi ungkapan seorang pujangga Eliya Abu Madhi dalam
qashidahnya “ath-thalasim”,

“aku datang, tidak tahu dari mana, tetapi aku telah datang aku melihat
jalan di depanku, aku pun berjalan bagaimana aku datang, bagaimana aku
melihat? aku pun tak tahu”

Bahayanya ungkapan ini karena mengindikasikan sikap ragu dan keraguan
terhadap dasar-dasar keimanan, asal usul penciptaan, akhir kehidupan dan
kenabian.

Atau anda pernah mendengar sebuah lagu yang syairnya “Dunia adalah rokok
dan cangkir” sebagai ekspresi “fly” dengan sebatang rokok dan secangkir
khamr.

Memelihara pandangan, pendengaran, lidah dan langkah-langkah gerak kaki
anda merupakan bagian dari shaum anda. Menjaga hati dan menahan emosi
serta mengarahkan keinginan-keinginan jiwa juga bagian yang tak
terpisahkan dari shaum anda. Sebab, shaum tidak hanya dari menahan lapar
dan dahaga, tetapi menahan semua anggota badan dari perbuatan tidak baik
juga adalah shaum yang diinginkan Allah, agar para pelaku dan peserta
ujian Ramadhan berhasil meraih predikat muttaqin (orang-orang bertakwa).

Karenanya, saat jiwa anda berontak meminta kebutuhan keindahan seni,
sebenarnya saat itu anda diuji untuk mengarahkan keinginan itu ke arah
yang disukai Allah swt. dan Rasulullah saw. Mendengarkan dan membaca
Al-Qur’an di bulan Ramadhan, ternyata juga mampu melembutkan hati dan
menjernihkan pikiran serta membersihkan sikap perilaku pembaca dan
pendengarnya.

Sesekali hibur dengan bacaan shalawat dan lagu-lagu nasyid yang
menggugah hati dan membangun spirit bekerja dan berjuang, seperti nasyid
dalam album Snada :

Wahai saudaraku mari bersama
Kita bersatu berjuang
Menegakkan panji Ilahi
Agar berjaya slamanya
Hidup di dunia hanya sementara
Jangan kau sampai terlena
Bersiaplah mulai saat ini
Menuju hidup abadi
Reff.
Mari bersama
kita bahu membahu
Untuk mencapai tujuan mulia
Menggapai ridho Ilahi
Ya Allah….
ya Ilahi Robbi
Teguhkanlah iman kami
Dalam menempuh jalanMu

Boleh juga sesekali menghibur diri dengan menyaksikan tayangan TV pada
program yang sehat dan menyehatkan. Jangan sekali-kali merusak shaum
dengan tontonan yang ‘menjijikan’. Demikian juga menghibur diri dengan
seni berpenampilan islami yang tidak merusak shaum dan tidak mengurangi
pahala dan nilai shaum. Insya Allah seni seperti itu mendapat status
“TAKWA SENI” yang dibangun di bulan Ramadhan.

Semoga kita berhasil. Amien.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s