ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-18)


HARMONI KELUARGA MUSLIM DALAM RAMADHAN

Dalam catatan sejarah Islam tertera informasi kejadian-kejadian
bersejarah di dalam bulan Ramadhan, seperti perang Badr, sebuah
peristiwa besar yang menentukan eksistensi umat Islam sepanjang
sejarah manusia. Fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah), peristiwa
bersejarah yang lain, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai
penyelamatan penduduk negeri dari kemerosotan moral dan malapetaka
akibat kezhaliman yang merajalela.

Namun, peristiwa-peristiwa ‘militeris’ tersebut tidak menafikan adanya
peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan Ramadhan yang sarat dengan
nilai dan norma rekonstruksi kehidupan rumah tangga muslim. Sehingga
Ramadhan sejatinya dijadikan momen untuk pendidikan dan pembinaan
kehidupan keluarga samara (sakinah mawaddah dan rahmah). Simak dan
renungkan riwayat kepercayaan para wanita muslimah, Aisyah ra. istri
Rasulullah saw.,

“Seperti biasanya Rasulullah saw. melakukan i’tikaf di mesjid pada
sepuluh malam terakhir. Di suatu Ramadhan aku sedang datang bulan
(haidh), sehingga aku tidak dapat memasuki mesjid di mana Rasulullah
saw. beri’tikaf. Pada saat itu Rasulullah memasukkan kepalanya ke
dalam hujrah (kamar) ku agar aku dapat menyisirkan rambut beliau”.

Demikian kisah seorang istri tentang perhatiannya kepada suaminya,
sebaliknya kepedulian suami kepada sang istri yang dicintainya.
Mungkin ada orang yang berpikir negatif, bahwa sang suami berlebihan
dalam menyikapi istri. Dalam pandangannya, seorang yang asyik
beribadah seyogyanya tidak terusik dengan aktivitas lain apalagi
keharmonisan dengan keluarga.

Memang, dalam realitanya konsentrasi seseorang kepada suatu pekerjaan
seringkali membuat dirinya lupa terhadap pemberian hak pada orang lain
yang harus ia tunaikan. Apalagi keasyik-masyukan seseorang dalam
berkomunikasi vertikal dengan Allah, seringkali membuat dirinya lalai
untuk berbuat baik kepada keluarga.

Ternyata, persepsi itu sangat paradoks dengan keteladanan figur
kharismatik bagi umat manusia. Kasus di atas merupakan jawaban tuntas
dari mis-persepsi tersebut. Sekaligus sebagai petunjuk bagi setiap
muslim dalam menampakkan keharmonisan keluarga selama Ramadhan. Karena
Ramadhan bulan penuh berkah dan rahmat, seyogyanya juga terealisir
dalam kehidupan rumah tangga muslim.

Buktinya dapat kita lihat teladan manusia pilihan Allah swt. Betapapun
khusyuknya beliau dalam ketundukan dan kontemplasi kepada Sang Rabb,
sama sekali tidak lupa kepada keluarga. Hak-hak mereka tetap
dijalankan, sebagaimana cerita Aisyah dan Ummu Salamah, bahwa
“Rasulullah saw. pagi-pagi dalam keadaan junub, bukan karena mimpi
junub, lantas beliau meneruskan berpuasa bulan Ramadhan”.

Bahkan, “Rasulullah saw. pernah mencium (istrinya) meskipun beliau
tengah berpuasa. Beliau bersentuhan (dengan istrinya) sedang beliau
juga dalam keadaan berpuasa. Sementara beliau adalah orang yang paling
bisa mengendalikan nafsunya”, sebagaimana tutur seorang anggota
keluarga Rasulullah saw.

Kisah di atas bukan sekedar kisah yang menyentuh masalah pemenuhan
kebutuhan biologis, bukan hanya pelajaran dalam masalah yang terkait
dengan faktor dorongan seksual. Tetapi secara psikologis, perlakuan
Rasulullah saw. tersebut memberikan keluarganya perasaan akan adanya
kepedulian dan perhatian, meskipun dalam saat-saat kerinduan yang
mendalam kepada Rabbnya Yang Rahman dan Rahim. Terbukti beliau juga
mendorong keluarganya untuk meningkatkan ritual ibadahnya di
akhir-akhir bulan Ramadhan, “beliau mengencangkan ikatan kain
sarungnya dan membangunkan keluarganya di malam hari (untuk qiyamullail)”.

Pelajaran lain dari kehidupan rumah tangga Rasulullah saw. adalah
mengajarkan hidup hemat dan sederhana, seperti yang diceritakan Anas
ra. selaku salah seorang sahabat yang setia melayani beliau tidak
kurang dari 10 tahun lamanya. Anas ra. Bercerita, Rasulullah saw. suka
berbuka dengan tiga buah kurma atau dengan sesuatu yang tidak dimasak
dengan api”. Dalam riwayat lain “dengan kurma kering dan air”. Meminum
air pun dilakukannya dengan dua kali atau tiga kali tegukan, seperti
kata Ummu Salamah istri Rasulullah saw..

Menghiasi meja makan dengan aneka makanan dan minuman merupakan
sesuatu yang mubah (boleh boleh saja). Mungkin sebagian orang
mengatakan, “wajar dan maklum saja karena seharian tidak bertemu
dengan makanan dan minuman yang dirindukannya”.

Masalahnya bukan itu, tetapi manusia ketika diberikan kebolehan suka
‘over acting’. Sikap berlebihan inilah yang tidak diperkenankan agama,
sebagaimana firman Allah swt., “makan dan minumlah, tetapi jangan
berlebihan”.. Jangankan Allah, manusia saja tidak suka melihat orang
lain berlebihan, tapi ‘dasar manusia’, tidak suka melihat orang lain
berlebihan, tetapi dirinya suka berlebihan.

Lalu ukuran kelebihan seperti apa? Jawabannya “istafti qalbaka”
mintalah jawaban fatwa kepada hati nuranimu yang fitri (bersih).
Perhiasan dunia memang diperuntukkan bagi kehidupan manusia, asal
tidak melalaikannya dari pengabdian kepada Allah swt. dan ingat kepada
saudara-saudara sesama yang tidak dapat merasakan kenikmatan yang
dirasakannya. Istri Rasulullah saw. Ummul Mukminin Aisyah ra.
menjelaskan, bahwa uluran tangan Rasulullah saw. kepada sesama yang
membutuhkan, lebih cepat dan lebih dari angin yang bertiup kencang.

Keseimbangan pola hidup dan keharmonisan rumah tangga merupakan kunci
dari keberhasilan setiap muslim yang berobsesi menjadi orang cerdas
secara spiritual, intelektual, dan fisikal, sebagaimana yang
diteladankan Rasulullah saw. Masih banyak lagi kisah-kisah bersejarah
keluarga Rasulullah saw. di bulan Ramadhan yang seyogyanya dijadikan
teladan bagi para keluarga muslim.

Yang jelas adalah bahwa bulan Ramadhan membuka peluang dan kesempatan
besar untuk mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Mulai dari
kebersamaan, suasana keberagamaan, peningkatan kondisi rohani
keluarga, dapat kita latih selama Ramadhan, sebagaimana diteladani
Rasulullah saw.

Makan sahur yang dianjurkan, di satu sisi dapat dijadikan momen meraih
keberkahan shaum di siang hari, secara fisik badan jadi sehat dan
segar karena makan sahur. Di sisi lain, makan sahur juga bisa
dijadikan sarana menumbuhkan kebersamaan. Yakni, sahur dilakukan
secara bersama, berhimpun dalam satu meja, diawali dengan do’a bersama
dan membereskan meja makan setelah selesai makan sahur.

Demikian juga ifthar (buka puasa) bersama keluarga. Ajaklah keluarga
berdo’a yang dapat dipimpin oleh salah seorang anggota keluarga. Dapat
juga diadakan semacam kultum (kuliah tujuh menit) secara bergantian
dengan tema-tema arahan yang bermanfaat untuk keluarga.

Saat ada kesempatan dan memungkinkan, berangkat bersama ke tempat
shalat untuk melakukan shalat tarawih berjamaah. Mendengarkan kuliah
tarawih merupakan sarana yang lain untuk menambah wawasan keluarga.
Dapat juga sesekali shalat tarawih dilakukan di rumah bersama keluarga.

Luangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga dalam rangka menunaikan
program “tadarus” (membaca al-Qur’an), bisa dengan cara bergantian.
Yang penting bukan mengejar khatam (tamat) bacaan al-Qur’an, tapi
menumbuhkan kebersamaan dalam suasana religius dapat dijadikan
orientasi program semacam ini.

Pada sepuluh malam terakhir, keluarga dapat kita ajak untuk melakukan
i’tikaf. Bagi para istri, cukup melakukannya di dalam rumah dengan
bimbingan dan arahan sang suami, atau dapat bertanya kepada seorang
ustadz yang mampu memberikan fatwa-fatwanya terkait dengan i’tikaf
para wanita muslimah.

Semoga Ramadhan kali ini akan melahirkan keluarga-keluarga takwa, yang
komitmen dengan ajaran Allah swt., konsisten dengan risalah Islam,
tampil dengan anggota-anggota keluarga yang berakhlak mulia dan mampu
mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, dengan
keluarga-keluarga mulia produk Ramadhan, akan lahir pula masyarakat
yang adil dan makmur. Allah swt.. pun meridhoi kehidupan mereka di
sebuah negara adil sejahtera. Semoga.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s