ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-19)


MANAJEMEN DIRI DI BULAN SUCI

1. Dicari: Manajer Kehidupan

Hidup bukanlah suatu kebetulan yang kemudian dipenuhi dengan
aktivitas-aktivitas manifestasi dari keinginan diri belaka, atau
menghabiskan umur, menyibukkan diri merespon kehidupan dunia an sich,
seolah hidup ini tanpa akhir. Seolah tidak ada kehidupan lagi setelah
kehidupan dunia ini dan segala fasilitas yang telah dinikmati itu
tidak akan pernah dimintai pertangungjawaban.

Kalau demikian orang memperlakukan hidupnya, Allah swt. melukiskan
sesungguhnya ia hidup dalam fatamorgana. Segera ia akan mendapati
“pepesan kosong” dari seluruh apa yang diupayakannya di sepanjang
hidupnya. Seperti yang telah di “wanti-wanti” Allah swt.,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan
dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti
hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman
itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari
Allah serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu”. (Al-Hadid : 21)

Al-Qur’an menyebut kehidupan dunia ini sebagai “mataa’un qaliil”
(kenikmatan bak “sepotong roti”). Meski demikian, masih saja
kebanyakan orang telah memberi harga terlalu mahal untuk harga dunia
ini, dengan menghabiskan seluruh hidup untuk hasil yang sedikit dan
sekejap saja.

Orang yang mampu memenej kehidupannya secara efektif untuk mencapai
tujuan hidupnya yang hakiki, yaitu mencapai keridhaan Allah swt.
semata, disebut Allah sebagai orang yang pandai bersyukur. Sebagai
hasilnya, ia mendapatkan value added: “Allah akan menambah nikmatNya”
(Ibrahim: 7) dan di akhirat diberi tempat di syurga dengan segala
fasilitas kenikmatannya dan kekal di dalamnya (Al-Baqarah: 25).

Kata syukr dalam Al-Qur’an memiliki makna yang luas dan variatif,
antara lain: menghargai, mengenal batas, dan mengenal haq. Hamba yang
padai bersyukur (abdan syakuran) adalah hamba yang mampu menghargai
kesempatan hidup dengan segala anugerah nikmatnya dan mempergunakannya
pada jalan Allah swt. Sayangnya, manajer-manajer kehidupan itu
sangatlah langka ditemui, seperti Allah swt. informasikan,

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang
diberikan-Nya) kepada manusia tetapi kebanyakan manusia tidak
mensyukurinya” (An-Naml: 73)

“….Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur” (Saba’: 13)

Memenej kehidupan, meski bukan sesuatu yang mustahil, tetapi merupakan
suatu yang sangat sukar dipraktikkan. Syarat mampu memenej kehidupan
hanya satu, yaitu mampu memenej (mengendalikan) diri sendiri. Bulan
suci Ramadhan adalah jadwal tahunan latihan memanajemani diri sendiri.

2. Ramadhan: Bulan Pelatihan Manajemen Diri

Ramadhan adalah bulan pelatihan intensif yang standard operating
procedures (SOP)-nya didesain Allah swt. dengan tujuan menghasilkan
manusia berkualitas taqwa, yang indikatornya mampu memenej diri
sendiri, dalam mengelola sumber-sumber daya nikmat yang Allah
anugerahkan (la’allakum tasykuruun), dan selalu memelihara kualitas
diri sesuai standard quality control dari Allah swt. (la’allahum
yarsyuduun).

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian
mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya
diperhatikan (SOP) maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang
pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Baihaqi).

SOP Ramadhan tidak saja mencakup pelaksanaan puasa itu sendiri dan
pelarangan makan dan minum atau hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi
juga mencakup seluruh pengelolaan diri terhadap sumber-sumber daya
yang dianugerahkan Allah untuk mencapai tujuan. Bila SOP itu tidak
diindahkan, maka puasanya terancam tidak mengahasilkan value added
apapun, seperti yang Rasulullah ingatkan, “Berapa banyak orang
melakukan puasa tetapi tidak ada yang diperolehnya dari puasa itu
kecuali lapar dan dahaga saja”.

Maka, setiap mukmin bila ingin mencapai kualitas taqwa harus dapat
merencanakan waktu, aktivitas, dan sumber-sumber daya nikmat Allah
lainnya yang dianugerahkan kepadanya secara efektif dan efisien dengan
mengikuti SOP Ramadhan.

3. Manajemen Diri di Bulan Suci Ramadhan

Dengan memperhatikan dan mengikuti SOP Ramadhan, setiap mukmin diminta
kembali melakukan re-orientasi kehidupannya serta re-scheduling dan
accustoming (pembiasaan) totalitas aktivitas kesadaran, mental dan
fisiknya secara paralel dengan maksud eksistensinya sebagai hamba
Allah swt.

3.1. Re-Orientasi Hidup

Beragama Islam adalah suatu hal peting, dan kemauan atau membiasakan
diri untuk menjalankan syari’at Islam bukanlah sesuatu yang
automatically, karena ia menganut Islam secara legalitas formal.
Re-orientasi hidup setiap tahun di bulan Ramadhan, dimaksudkan sebagai
proses perbaikan dan peningkatan kualitas diri dimana seluruh
aktivitas diri paralel dengan tujuan hidup.

Allah swt. memformulasikan orientasi hidup bagi para hamba-Nya,

“Carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu membuat kerusakan di
(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
membuat kerusakan” (al-Qashash: 77).

Lazimnya, sebelas bulan sebelum Ramadhan, aktivitas hidup lebih
disibukkan pada pencapaian kehidupan material-jasmani-duniawi dan
melupakan porsi ruhiyah-ukhrawi. Puasa Ramadhan mengingatkan pada
kesadaran bahwa target kehidupan harus diletakkan pada porsi yang
seimbang.

3.2. Perencanaan Aktivitas kehidupan

Rescheduling dan accustoming menuntut suatu perencanaan hidup. Memenej
diri sendiri membutuhkan perencanaan yang jelas dan sistematik. Allah
swt. memerintahkan manusia untuk melihat posisi dan keadaan dirinya
pada hari ini sebagai rangkaian yang tidak terputus dari hari kemarin,
dan mengevaluasi dengan ukuran pencapaian target jangka pendek (dunia)
maupun panjang (akhirat).

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah!. Dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkannya untuk
hari esok. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18).

Bulan suci Ramadhan menjadwal ulang aktivitas mukmin yang kurang atau
lalai di sebelas bulan sebelumnya. Ramadhan merupakan jadwal aktivitas
penguatan bagi mukmin yang berhasil meramadhankan sebelas bulan pra
Ramadhan tahun ini.

Setiap mukmin yang tidak ingin kehilangan special moment dan berharga
ini, ia harus merencanakan aktivitas dirinya paralel dengan aktivitas
Ramadhan yang padat. Mulai semenjak sahur menjelang subuh sampai
dengan sahur kembali. Melakukan pengendalian nafsu yang diiringi
pembiasaan shalat berjama’ah, tadabbur al-Qur’an, shalat lail,
menghidupkan sunnah-sunnah Rasul dalam aktivitas keseharian, i’tikaf,
meningkatkan kuantitas dan kualitas amal shalih dan sosial, pembinaan
kesadaran melalui zikrullah yang diperbanyak dan aktivitas taubat.

3.3. Strategi Manajemen Diri

Secara tersirat, sesungguhnya puasa Ramadhan menyajikan formulasi
strategi memenangkan kesadaran atas nafsu, yang melahirkan qalbun
salim dan mengusir keluar syaithan dari seluruh alur aliran darah dan
kesadaran. Bila dijelaskan per-item, prinsip strategi manajemen diri
melalui puasa Ramadhan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Memiliki komitmen yang hanif dan kuat. Komitmen puasa Ramadhan,
adalah : “imanan wahtisaban”. Tanpa itu, puasanya – meminjam istilah
Erving Goffman – hanyalah sebagai “presentation of self” yang
memberikan nilai nihil bagi pengembangan pribadi mukmin. 2. Konsisten
dengan target hidup mencapai ridha Allah swt. dan tidak terlena dengan
target kehidupan material-jasmani-duniawi semata. Puasa adalah ibadah
yang diawali dengan pengendalian diri dan diakhiri dengan mengagungkan
Allah sebagai tanda kemenangan fitrah. Bila inkonsisten, akan
meruntuhkan seluruh sendi komitmen, dimana ridha Allah akan digantikan
riya. Maka, badan akan mendikte ruh. Kekuatan ruh terpenjarakan dalam
wadag tubuh.

3. Memfungsikan nikmat jasmani, kesadaran (fuad) serta sumber-sumber
daya nikmat Allah lainnya dengan seizin Allah swt. untuk mencapai
tujuan akhirat dan dunia secara seimbang. Bila keseimbangan ini tidak
terjadi, misalnya tujuan material-jasmani-duniawi mendapat porsi yang
lebih besar, maka nafsu syahwat dan amarah (ghadhab) serta bisikan dan
rayuan syaithan akan mengendalikan kesadaran dan aktivitas, yang
merupakan pintu awal kerusakan sosial dan alam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian
maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9)

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s