ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-21)


PEMBINAAN KUALITAS REMAJA DI BULAN PUASA

1. Remaja: Periode Kekuatan dan Kelabilan

Ibnu Katsir, tatkala menafsirkan ayat: “Allah menciptakan kamu dari
kelemahan, kemudian menjadikan kuat setelah masa lemah, lalu
menjadikan lemah kembali dan beruban, Dia menciptakan sehendak-Nya,
Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa ” (Ar-Ruum: 54), menjelaskan bahwa
yang dimaksud masa kuat dalam ayat itu adalah periode remaja
(Adolescence) dan dewasa (Adulthood).

Dari sisi fisiologis dan psikologis, penulis memperkirakan “masa kuat”
itu berada pada fase remaja akhir (remaja paripurna, usia 14-21 tahun
atau 15-22 tahun) dan masa dewasa (21-30 tahun). Perkiraan penulis ini
didasarkan pada realitas remaja salaf yang pada masanya mampu
menunjukkan kualitas kemampuannya dalam berbagai bidang. Sebagai
misal, Usamah bin Zaid di usianya yang baru 17 tahun diberi amanah
sebagai panglima perang dalam peristiwa Tabuk melawan Romawi.

Muadz bin Jabal saat diambil sumpah sebagai hakim agung, usianya masih
18 tahun. Meski diusianya yang masih belasan tahun, Salim Maula Abu
Hudzaifah diakui Umar sebagai seorang kandidat pemimpin handal,
sehingga Khalifah Umar bin Khattab mengatakan: “Kalau Salim masih
hidup, maka dialah yang layak menjadi penggantiku”. Begitu pula dengan
Abu Ubaidah, diusianya yang masih relatif muda dikenal sebagai ahli
manajemen dan ahli strategi perang besar yang pernah terjadi dalam
sejarah keemasan Islam periode awal.

Jauh sebelumnya, sejarah juga membuktikan bahwa perjuangan Islam tidak
luput dari peran kaum muda. Para Nabi, sebut saja Nabi Daud As, Nabi
Yusuf As, Nabi Ibrahim As, Nabi Ismail As, Nabi Isa As dan Nabi
Muhammad sendiri adalah dari kalangan muda. Selain itu, Al-Qur’an
mengabadikan kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua), kisah Ashabul Ukhdud,
dan kisah Hawariyyun (pengikut Nabi Isa As).

Semuanya adalah orang-orang muda yang telah menunjukkan kekuatannya
seperti yang dituturkan Allah dalam surah Ruum ayat 54 di atas.
Kekuatan yang menurut Sayyid Quthb bukan saja ditunjukkan dari dimensi
fisologis, tetapi psikologis (Fi Zhilal al-Qur’an 5/2776), yang dalam
terminologi psikologi dirumuskan usia mental (mental age) mereka jauh
lebih dewasa dari usia kalender (calendar age) mereka.

Zakiah Drajat (Kesehatan Mental, 1988/104) mengqiaskan, bahwa masa
remaja merupakan jembatan penghubung yang membentang antara masa
bergantung pada orangtua (masa anak-anak) dan masa mandiri,
bertanggungjawab, memiliki prinsip, dan berfikir matang (masa dewasa).
“Jembatan” itu ditempuh kurang lebih selama 7 tahun. Perbedaan waktu
yang cukup panjang itu tidaklah dilalui dengan stabil, tetapi
mengalami pancaroba (pubertas).

Masa remaja merupakan ujung dari masa anak-anak. Kemampuan remaja
melalui “jembatan pancaroba” itu ditentukan oleh rangkaian pendidikan
di masa anak-anak. Bagaimana jadinya di masa dewasa, sangat ditentukan
dari kemampuan ia menempuh masa 7 tahun pancaroba itu.

Oleh karena itulah, Islam memerintahkan para orangtua menyelenggarakan
pendidikan anak sejak dini sebagai pembentukkan fondasi karakter
kepribadian Islami yang kokoh. Sehingga, saat ia menempuh masa
pancaroba, anak tetap pada jati diri keislamannya.

Pertumbuhan fisik, intelektual, dan emosi pada masa remaja berlangsung
sangat cepat. Remaja tumbuh menjadi sosok yang kuat, wawasan
keilmuannya bertambah luas dan dalam, sehingga tumbuh pula sebagi
sosok yang kritis. Sementara, dimensi emosinya masih belum stabil,
dimana keinginannya lebih menggebu ketimbang pertimbangan rasionya.
Sehingga, ia berkembang pula menjadi sosok “pemberontak” terhadap
realitas.

Maka, tidak dimungkinkan lagi para orangtua menganggap ia sebagai
anak-anak yang masih berusia 8 atau 10 tahun. Atau sebaliknya, dengan
melihat tubuh fisiknya yang besar, para orang tua memperlakukannya
sebagai orang dewasa yang semuanya mampu dilakukan secara mandiri
dengan kemampuan berfikir matang dan pengalaman banyak dengan emosi
yang stabil.

Keliru dalam mendidik remaja, akan dapat berakibat fatal dalam
perkembangan mental, intelektual, dan spiritualnya. Sebagaimana hal
tersebut terjadi pada para ABG bangsa ini: konsumeris, materialistis,
hedonis, dan mengalami penyimpangan perilaku seperti madat, narkoba,
penyimpangan seksual, tawuran, dan penyimpangan psikis serta sosial
lainnya.

2. Remaja : Antara Generasi Penerus dan Generasi Terakhir

Masa remaja bisa berujung pada masa kedewasaan yang berkarakter
al-‘abdu ash-shalih al-mushlih (hamba yang shalih secara individu dan
manjadi penggerak perubahan positif dalam masyarakatnya) atau pemuda
yang “salah lagi lemah”. “Salah” aqidah dan ibadahnya, “lemah” fisik,
mental, dan kemampuannya.

Jangan sampai generasi muslim bangsa ini seperti generasi terakhir
ummat sebelum dimusnahkan dengan berbagai bencana. Allah swt. berfirman,

“Telah pulang yang taat dan digantikan oleh generasi baru, yang hanya
menyia-nyiakan shalatnya, serta menurutkan kehendak syahwatnya,
memperluas masyarakat perzinaan. Mereka akan menemui bermacam-macam
bahaya dan bencana” (Maryam : 59).

Hakikat Islam adalah perbaikan dan penyempurnaan akhlak. Indentitas
ummat Islam adalah akhlaknya. Abul A’la Al-Maududi mengatakan,
musnahnya sebuah masyarakat atau bangsa bila telah lenyap indentitas
kebangsaannya atau hancur melebur kedalam indentitas bangsa yang lain.

Allah swt. menegaskan bahwa musnahnya bangsa-bangsa yang pernah mentas
di panggung sejarah, pangkal musababnya adalah rusaknya akhlak sebagi
akibat “mendustakan agama”, bukan oleh sebab ekonomi atau lemah
angkatan bersenjatanya, seperti ditegaskan Allah swt.,

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah
(Al-Qur’an dan Terjemah Departeman Agama, memberi catatan kaki : “yang
dimaksud sunnah-sunnah Allah disini ialah hukuman-hukuman Allah yang
berupa malapetaka, bencana, yang ditimpakan kepada orang-orang yang
mendustakan rasul”). Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan
perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul)” (Ali Imron: 137). Ahli hikmah mengatakan, “Umat-umat
ini akan berdiri tegak dengan akhlak mulia, jika tidak ada akhlak
(tidak bermoral) maka umat itu akan punah”.

3. Puasa: Teknik Pengembangan Kualitas Remaja

Puasa sesungguhnya merupakan salah satu teknik pengembangan pribadi
muslim, baik dari sisi fisik maupun psikis. Terutama dari sisi
kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Bagi remaja yang
lazimnya berkarakter intelektuaitasnya tengah mengalami perkembangan
pesat, kritis, tetapi dari sisi emosi labil dan dalam proses pencarian
diri, maka puasa merupakan teknik penyeimbang dari gejolak jiwa
remajanya itu.

Puasa akan meredam sisi negatif kecenderungannya dan mengoptimalkan
potensi serta kemampuan positifnya. Puasa mengembangkan sikap ihsan
dan sabar yang sesuai dengan pilar-pilar SQ dan EQ. Bahkan ihsan dan
sabar merupakan pintu masuk pada pengembangan SQ dan EQ.

SQ ditandai dengan kemampuan merasakan kehadiran Tuhan yang pada
gilirannya berimplikasi pada ketenangan jiwa. Kehadiran Allah swt.
hanya akan dapat dirasakan bila hati bersih dari aneka kotoran dan
penyakit. Puasa adalah teknik penyucian jiwa dari kotoran dan penyakit
hati. Penyakit hati, seperti keangkuhan, dengki, berambisi pada posisi
tertentu dan riya merupakan sumber keresahan jiwa (stress).

Penyakit-penyakit hati itu akan tumbuh subur pada masa remaja yang
mengalami fluktuasi gejolak jiwa akibat rasionya mempertanyakan
kembali konsep agama dan Tuhan, ambisinya yang melampui pertimbangan
akal sehatnya, dan kebutuhan pada pengakuan sosial yang acapkali
menampakkan dirinya pada tataran aksesoris ketimbang esensi
kemampuannya mengelola hidup secara mandiri. Melalui puasa, remaja
dilatih ikhlash dan rendah hati, yang tercermin dari ucapan dan
perilakunya lebih berorientasi pada obyektifitas ajaran Allah swt.

EQ ditandai dengan kemampuan mengelola emosi. Sedangkan sabar adalah
kata lain dari kemampuan mengendalikan emosi. Dalam sikap sabar
terkandung 4C, yaitu:

Pertama: Commitment, yaitu niat atau tekad yang menghunjam dalam kalbu
untuk mencapai cita. Komitmen ini pula yang menentukan maju atau
mundurnya usaha seseorang. Dengan komitmen yang tinggi remaja tidak
akan pernah putus asa. Komitmen ini diperlukan remaja yang seringkali
melakukan sesuatu tanpa orientasi yang jelas.

Kedua: Consistence, yaitu satu padunya isi hati dan fikiran dengan
ucapan dan tindakan. Kecenderungan remaja cepat merubah arah tujuan
hidupnya karena labilnya emosi yang kemudian mempengaruhi
keputusannya, hanya akan berakhir pada kehampaan dan penyesalan.
Dengan shibghoh puasa, remaja dilatih memiliki sikap sabar yang salah
satunya berdimensi konsisten dengan tujuan esensial dan tidak pernah
menggeser arah untuk tujuan yang temporer.

Ketiga: Consequence, yaitu siap dan sabar menanggung risiko. Remaja
sangat membutuhkan pengakuan bukan sekedar eksistensinya, tetapi juga
kemampuannya dalam memilih dan melakukan sesuatu dengan
bertanggungjawab. Ibadah puasa akan memperkokoh dorongan alamiahnya,
berani, dan sabar menanggung risiko. Ia terlatih tidak akan berhenti
di tengah jalan oleh karena ia gagal, melainkan segera bangkit
meneruskan perjalanan yang belum usai.

Keempat: Continues, yaitu sikap sabar melalui proses tahap demi tahap
secara berkelanjutan. Sabar dalam ikhtiar merupakan penawar dari sikap
remaja yang segera ingin mendapatkan hasil secara instant.

4. Kriteria Pengembangan Program

Rancangan program pembinaan remaja di bulan puasa harus
mempertimbangkan aspek syariah, perkembangan karakter, dan kebutuhan
pada tiap fase dan permasalahan remaja. Ketiganya merupakan fundamen
mendasar dan krusial dalam membahas apa dan bagaimana membina remaja
di bulan puasa.

Karena pertama, setiap fase mengindentifikasikan perkembangan fisik
dan mental yang berbeda-beda, sehingga implikasi tujuan, materi, dan
model pembinaan remaja itu berbeda-beda pula, sesuai dengan tahap
perkembangan. Kedua, permasalahan remaja secara umum perlu diketahui
akar-akar pemicunya, sehingga program pembinaan itu mencakup pula
alternatif solusi dari permasalahan kenakalan remaja itu.

Tanpa menimbang faktor syari’ah, psikologis, dan realitas tantangan
itu, maka program pembinaan remaja di bulan Ramadhan ini akan kurang
diminati oleh remaja itu sendiri, tidak memiliki relevansi yang
signifikan terhadap realitas kebutuhan remaja, dan kurang menimbulkan
efek positif bagi perkembangan potensi dan kemampuannya.

5. Program Pembinaan Remaja di Bulan Puasa

Secara umum, rancangan program pembinaan remaja di bulan Ramadahan,
dapat disusun sebagai berikut:

ASPEK PERKEMBANGAN PROGRAM PEMBINAAN KEAGAMAAN

.. Kritis terhadap konsep dan praktik keagamaan yang tidak sejalan. ..
Perkembangan wawasan Keilmuan yang berimplikasi pada pertarungan
pemikiran keagamaan dan isme-isme .. Pengalaman ruhaniyah menghendaki
penyegaran makna lebih dari sekedar rutinitas ritual atau kewajiban

1. Penyegaran paham keagamaan sesuai dengan perkembangan wawasan
keilmuannya dan penerapan ekspresi aqidah, disiplin ibadah dan akhlak.
Bentuk Program: pesantren kilat, diskusi buku, tadabur Al-Qur’an,
perbandingan agama/isme, menghidupkan/pembudayaan sunnah Rasulullah di
bulan Ramadhan (zikir, shalat sunnah, improvisasi amal shalih, qiyamul
lail, I’tikaf dsb)

KEBUTUHAN Hubungan sosial yang lebih bermakna, mencapai peran sosial,
pengembangan fisik secara optimal, kebebasan memilih dan
bertanggungjawab, pengembangan potensi dan kemampuan, serta bimbingan
pemikiran dan nilai yang demokratis.

2. Pengembangan potensi dan Kemampuan: mental, IQ, jasmani, sosial.
Bentuk Program: pelatihan pengembangan potensi dan kemampuan seperti
jadi da’i muda, keterampilan, kepemimpinan, akademik, profesi.
Pemberian kepercayaan dan tanggungjawab melalui pelibatan dalam
kepanitiaan ifthar jamai, ZIS, I’tikaf dan kepengurusan masjid,
pembentukan organisasi remaja mandiri, klub belajar, tadabur alam,
kreatifitas seni dan lomba, usaha kecil dsb.

3. Dialog kaum tua dan remaja. Bentuk: diskusi atau seminar dialogis
dengan disiplin adab berbeda pendapat/ukhuwah, mentoring, jumpa tokoh.
Melibatkan dalam rapat-rapat urusan kemasyarakatan.

KEPRIBADIAN .. faktor internal (persepsi, sikap, motivasi) .. faktor
eksternal (keluarga, sekolah, masyarakat)

4. Pengembangan kepribadian produktif. Bentuk pelatihan manajemen diri
(EQ dan SQ), adab mua’malah, social project team work.

PERMASALAHAN Membolos, putus sekolah, berbohong, tindakan kekerasan,
narkoba, cabul, membuat gank, tawuran, mencuri, serta melawan orang
tua dan guru

5. Bimbingan konsep diri, pemecahan masalah, manajemen waktu, karier
dan seks, ruqyah dalam Islam dengan tinjauan pskologi dan manajemen.

JASMANI Pertumbuhan fisik yang sangat cepat tetapi di lain sisi
berakibat terjadinya disharmonisasi antar pertumbuhan fisik,
pertumbuhan alat kelamin, mengalami gangguan kesehatan

6. Aktif dalam atau mengorganisir klub olah raga, disiplin dalam
kesadaran pengaturan gizi dan makanan, pakaian yang menutup aurat,
gaya hidup muslim, organisasi aktivitas dan teman bermain dan lain,
pemeriksaan kesehatan, berbekam.

Dengan program pembinaan yang menempatkan remaja sebagai subyek
pembinaan melalui pembelajaran dialogis dan pemberian kepercayaan,
keleluasaan ekspresi, kreatifitas, dan pada pemberian beban
tanggungjawab dalam bingkai kurikulum pembinaan remaja terpadu. Insya
Allah program ini akan diminati oleh remaja itu sendiri dan akan
mengembangkan potensi serta kemampuan remaja sebagai generasi muslim
yang berkualitas, dapat terlaksana secara optimal, di samping meredam
gejolak jiwa negatif remaja. Wallahu A’lamu Bish-Showab.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

2 thoughts on “ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-21)

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s