ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-25)


MENGGAPAI MALAM SERIBU BULAN

1. Keutamaan Malam Al Qadr

Dalam ramadhan, terdapat satu malam yang bergelimang berkah, yang
populer dengan sebutan lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari
seribu bulan. Malam ini menambah daftar panjang kemuliaan bulan
Ramadhan. Allah berfirman,

“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan”. (Al-Qadr: 1-5)

Lailatul Qadar juga dapat menghapuskan dosa orang-orang yang
melaksanakan ibadah pada malam tersebut. Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman dan
ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu”
(HR. Bukhari dan Muslim).

25.2. Makna Lailatul Qadr

Al-Qadr dalam bahasa Arab memiliki tiga makna (lihat Fathul Bari), yaitu:

1. Ta’zhim  artinya pengagungan dan penghormatan.

Al Qadr untuk makna ini terdapat dalam firman Allah,

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya”.
(Al-An’am :91)

2. Tadhyiq artinya penyempitan.

Al-Qadr untuk makna ini termuat dalam firman Allah,

“Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari
harta yang diberikan Allah kepadanya”. (Ath-Thalaq: 7).

3. Al-Qadr  artinya pasangan dari qadha, yaitu ketetapan
yang diturunkan oleh Allah kepada tiap-tiap manusia.

Tiga makna Al-Qadr ini jika dipasangkan dengan kata “Lailah” yang
berarti malam, maka artinya menjadi sebagai berikut :

1. Lailatul Qadr adalah malam yang penuh keagungan dan kehormatan.

Banyak hal yang membuat malam ini menjadi penuh keagungan dan
kehormatan sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar, di antaranya:

Pertama, malam tersebut adalah malam diturunkannya Al-Qur’an. Begitu
agungnya Al-Qur’an, menyebabkan semua faktor yang mengiringinya
menjadi agung dan terhormat. Sebutan Al-Qur’an Al-`Azhim, yang berarti
Al-Qur’an yang penuh keagungan sangat akrab di telinga kita. Menurut
makna ini, malam Al-Qadr menjadi mulia karena faktor turunnya A-Qur’an.

Kedua, malam ini disebut juga sebagai malam penuh keagungan karena
turunnya malaikat dengan seizin Tuhan mereka. Malaikat adalah makhluk
Allah yang mulia dan selalu taat dengan perintah Allah serta tidak
pernah berbuat dosa..
Turunnya para malaikat, makhluk Allah yang mulia ini menjadikan malam
tersebut turut menjadi mulia.

Ketiga, Malam ini juga menjadi agung karena dijadikan oleh Allah
sebagai malam yang penuh barakah, rahmat, dan maghfirah. Keberkahan
Allah di malam ini tercurah, sifat rahmat-Nya ditebar buat seluruh
makhluk-Nya, dan pintu ampunan-Nya dibuka selebar-lebarnya.
Keberkahan, rahmat, dan maghfirah adalah ciri-ciri keagungan dan
kehormatan.

Keempat, Malam ini juga menjadi agung karena akan membuat orang yang
menghidupkannya dengan ibadah menjadi agung dan terhormat.

2. Lailatul Qadr memiliki makna malam yang sempit. Sifat ini
dialamatkan kepada malam Al-Qadr, karena dua faktor: Pertama, ilmu
tentang penentuan qadar yang turun malam itu tetap menjadi rahasia
Allah, dan manusia tetap sempit pengetahuannya tentang hal ini. Kedua,
bumi pada malam itu menjadi sempit karena dijejali oleh turunnya
malaikat yang begitu banyak.

3. Lailatul Qadr adalah malam penentuan Qadar. Pada malam itu
kejadian-kejadian yang akan terjadi setahun ke depan ditetapkan. Hal
ini sejalan dengan firman Allah,

“Haa Miim, Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, Sesungguhnya Kami
menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya
Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala
urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisiKami…”
(Ad-Dukhan : 1-5)

Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang
berhubungan dengan kehidupan makhluk, seperti: hidup, mati, rezeki,
untung baik, untung buruk, dan sebagainya. Al-Qadr di sini dimaksudkan
sebagai rincian tahunan dari Qadha Allah yang telah ditetapkan secara
umum sejak jaman azali..

3. Kapan Lailatul Qadr Terjadi ?

Para ulama berbeda pendapat tentang penentuan malam Al Qadr (lihat
Fiqi Sunnah). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa malam
Al-Qadr jatuh pada malam ke 21, ada yang mengatakan malam ke-23, ada
yang mengatakan malam ke-25, ada yang mengatakan malam ke-27, ada yang
mengatakan malam ke-29, dan ada pula yang mengatakan malam tersebut
jatuh secara berpindah-pindah dari tahun yang satu ke tahun berikutnya.

Pendapat mayoritas mengatakan bahwa malam Al Qodr jatuh pada malam ke-27.
Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut:

1. Hadits Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Abdullah
bin Umar ra.:

“Barangsiapa yang ingin berjaga-jaga dan bertemu dengan malam Al-Qadr,
maka berjaga-jagalah pada malam ke dua puluh tujuh”.

2. Hadits Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dari
Ubay bin Ka’ab, dia berkata,

“Demi Allah Yang tiada ilah kecuali Dia! Sesungguhnya ia jatuh di
bulan ramadhan. Dan Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui malam apa
itu gerangan? Ia adalah malam yang kami diperintahkan oleh Rasulullah
saw. untuk menghidupkannya. Ia adalah malam ke duapuluh tujuh. Dan
tandanya adalah terbitnya matahari pada subuh harinya, putih, tanpa
sinar”.

4. Hikmah Tidak Adanya Kepastian Waktu

Di antara hikmah tidak dipastikannya kapan turunnya lailatul Qadar adalah:

1. Agar kita terus giat dan sungguh-sungguh beribadah, tidak hanya
beribadah pada hari-hari tertentu dan meninggalkan ibadah di hari-hari
yang lain.

2. Untuk melatih kita istiqamah dalam amal.

25.5. Menggapai Lailatul Qadr

Lailatul Qodr tidak disambut dengan memasang obor, pelita, atau apa
saja yang bernuansa api. Ia juga tidak disambut dengan membuat kue-kue
khusus menyambut hadirnya malaikat, sebagaimana dilakukan oleh
sebagian masyarakat kita. Baik api ataupun makanan yang menyambut
lailatul Qadr adalah seremonial yang bersifat fisik dan tidak ada
dasarnya dalam Islam, tidak sejalan dengan semangat Al-Qadr yang
bersifat maknawi.

Lailatul Qodar juga tidak disambut dengan cara memperindah rumah,
membeli sofa baru, memadati keramaian di mall-mall dan seterusnya.
Perbuatan ini sangat jauh panggang dari api, karena sangat
berseberangan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Kalau kita melihat keseriusan Rasulullah saw., isteri-isteri beliau
dan para sahabat menyongsong tibanya lailatul Qadr. Kita akan
berkesimpulan bahwa Lailatul Qadr adalah puncak kenikmatan yang
dihadirkan oleh Allah di bulan Ramadhan.

Puncak kenikmatan ini sangat kecil kemungkinannya akan dirasakan oleh
orang-orang yang tidak meniti hari demi hari Ramadhannya dengan
“iimanan” dan “ihtisaban”. Karenanya, mereka menyambut malam tersebut
dengan penuh kesungguhan, dengan cara menghidupkan malam-malam mereka
dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah lebih daripada
hari-hari biasanya.

Di antara cara menggapai lailatul Qodr adalah:

1. Menghidupkan malamnya dengan “imanan” dan “ihtisaban”.

Rasulullah saw. bersabda,
” Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman
dan ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu”
(HR.Bukhari dan Muslim).

“Rasulullah saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan
ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan
mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dan
tidak bercampur dengan istrinya).”

Beliau menghidupkan malam-malam terakhir tersebut di masjid,
memperbanyak tadarus Al-Qur’an dan menghidupkan malam dengan ibadah.

2. Ketika kita bertemu dengan malam ini, Rasulullah saw. mengajarkan
kita untuk membaca doa

“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, senangkan memaafkan,
karenanya ampunilah daku”.

Semoga kita dapat menggapai malam yang penuh mulia, penuh keagungan,
dan penuh barakah ini. Amiin.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT

Source: IKADI

One thought on “ARTIKEL SERIAL RAMADHAN (Bagian ke-25)

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s