Televisi


Suasana yang membisu di sebuah ruang tamu. Tanpa dilengkapi dengan perabotan rumah tangga. Yang mampu menghibur dari sorotan mata suami-istri tersebut, yang baru saja berdiam diri di rumah yang sangat sederhana itu. Tempat mereka tinggal berdua. Ia, hanya mereka berdua saja yang ada di rumah itu. Mereka hanya menunggu beberapa bulan lagi, maka istinya akan mengandung anak pertama mereka di bulan ini.

Ketika berada diruang tamu, Adinda mulai bersandar di dinding ruang tamu. Sambil melihat keadaan ruang tamunya. Masi kosong dan tanpa tergeletak sesuatu apapun.
“Abang, lagi ngapain di dalam kamar, perlu dibantuin?.” Tanya Adinda yang sedang duduk sendirian di ruang tamu.

“Ah tidak apalah, Aku bisa mengerjakanya sendiri.” Sambil membereskan pekerjaanya di dalam kamarnya.
Tidak seperti biasanya. Tugas yang menyibukkan bagi Aden, membuatnya tidak dihiraukannya lagi. Aden asyik sibuk melanjutkan pekerjaanya. Sehingga dia tidak ingin merepotkan Adinda, istrinya.
Adinda pun mulai menyiapkan diri ke dapur. Menyiapkan teh hangat dan roti sele. Agar bisa memenuhi isi perut yang kosong di pagi ini. Sambil berjalan ke ruangan tamu, dan menghindangkanya di lantai ruangan tamu tersebut.

“Abang,marilah sarapan dulu. Kita minum teh dan makan roti sele kesukaanmu.” Bujuk Adinda kepada suaminya, yang masi berdiam diri di dalam kamarnya. Aden pun mulai memenuhi pangilan istrinya. Sambil menghampiri istrinya, yang sedang duduk sendiri di ruang tamu. Aden memandang istrinya yang sedang duduk, sambil minum teh dan melihat kearahnya yang baru saja hadir. Aden mulai mencicipi hidangan di pagi ini. Walaupun sekadarnya, tapi cukup berarti baginya di pagi ini. Terasa nikmatnya untuk makan roti dan sambil minum air teh hangat bersama istrinya.

“Jadi apa tidak hari ini, kita pergi ke toko untuk membeli televisi yang kita janjikan waktu itu?” Tanya Adinda kepada suaminya, yang baru saja duduk di dekatnya. “Tentu saja jadi, tapi masih banyak urusan dengan para pemilik televisi tersebut. Aku harus mencarinya berkali-kali, dan tanpa keputusan yang jelas darinya. Kapan dan kapan, agar Dia mau membawanya kemari, ke rumah kita Adinda?” Sambil bergumam sendirinya, akibat keterlambatan pengiriman televise tersebut.
“Mungkin saja dia lagi sibuk sama pekerjaanya yang lain. Lagipula , televise itupun letaknya jauh dari pusat kota.” Sahut Adinda, untuk menenangkan suaminya yang sedang kesal dengan tingkah laku Anton , yang tidak menepati janjinya.

Keesokan harinya, Anton datang datang pagi-pagi sekali ke rumahnya Aden. Sambil membawakan pesanan televise yang sudah dijanjikan berbulan-bulan yang lalu kepada Aden. Anton mulai mengetuk pintu rumah mereka. Tidak ada jawabanya, dari pemilik rumah itu. Barulah kemudian ada suara balasan dari pemilik rumah tersebut.
“Pagi Bang Anton?, ini barang pesananmu. Maaf, kalau telat saya membawakanya kemari.”
“Ah tidak apa-apa.” Seru Aden, sambil mempersilakan masuk. Dan membawa masuk televise yang berukuran kecil itu.

Televisi itu hanya di taruh di dalam kamar mereka. Karna hanya di dalam kamar mereka saja yang layak untuk di letakkanya. Lagipula, rumah merekapun tidak mempunyai meja untuk menaruhkanya di ruang tamu.
Sambil melihat isi kamarnya. Aden pun mulai melihat Anton yang sedang senyum-senyum di belakangnya.

“Sederhana sekali Bang rumahnya. Hanya tempat tidur yang bisa menjadi alas untuk tidur saja di rumah ini.” Sambil tertawa melihat televise dan tempat tidur, yang ada di kamarnya.
“Namanya saja rumah sederhana. Tentu saja semuanya serba sederhana kan?”
“Ia juga sih.” Sahut Anton, yang sedang memandangi kamarnya Aden.
“Entar kalau ada uang dan umurku panjang, pasti aku akan membeli barang-barang yang belum terbeli. Ya, tapi itupun yang bisa dijangkau oleh gajiku doang.” Sela Aden, dari hasil lamunanya di dalam kamarnya.

Para tetanggapun mulai berdatangan untuk melihat televisi yang dibicarakan oleh para tetangga yang lainya.. Sebab, hanya rumah Adinda saja yang baru saja membelikan televisi baru itu. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi para tetangga yang lainya. Yang belum mempunyai televisi di rumah mereka masing-masing. Walaupun hanya televisi. Tetapi, hal ini sangatlah menguntungkan bagi para tetangga yang lainya. Mereka bisa menikmati televise itu di rumahnya Adinda, yang sangat sederhana itu. Apa lagi Adinda dan suaminya memberikan ijin untuk menonton televise itu. Dari pagi sampai malam. Kecuali jam istirahat telah tiba. Maka merekapun wajib mengindahkan hal ini untuk dimaklumi.

By Jojoe…

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s