Catatan Kaki Batavia – Kota Tua Jakarta


Kota besar jakarta, ya begitulah kira2 namanya, sebuah kota yang menjadi pusat kegiatan di indonesia, macet, semrautan, padat, sesak, sibuk, dan lain sejenisnya begitu banyak terjadi disini..
baru kali ini bru bisa lihat monas, kota tua, mangga 2, pasar senen dengan mata kepala langsung, maklum lah, anak kampung ke kota, jadi banyak yang pingin dilihat, namun aku disini (dijakarta ) bukan hanya untuk itu, kebetulan temen2 PSHK (pusat studi hukum dan kebijakan ) yang bertempat dijakarta mengundang aku dan beberapa temen2 dari ACSTF (achehnese civil society task force ) dari Aceh untuk mengikuti pelatihan pra penelitian untuk menilai perda yang dibuat di masing2 kota dan kabupaten yang menjadi peserta undangan pada pelatihan ini.

udah 3 hari di jakarta, awalnya seh pengen tahu banget, gimana seh sebenarnya kota jakarta, karena kalo dari TV, biasanya juga lihat jakarta, tapi mungkin hanya dari sisi yang mantrap2nya aja, tapi ne pengen lihat langsung gimana seh sebenarnya jakarta itu, nah waktu udah ampe sini, awalnya seh kagum geto lah, banyak gedung2 gedenya di sanasini, tapi ternyata kalo kita lihat kebawahnya, juga banyak mereka2 yang hampir tak mampu untuk makan sehari sekali, banyak dari mereka yang mati2an untuk dapat hidup dan mencari makan di jakarta, ternyata di antara gejolak menjibunya gedung2 bertingkat, mewah dan merambah kelangit, juga banyak sepeda2 onthel yang terus berjalan mengayuh rezeki, banyak bajaj2 yang mengais makan dengan menyalip kirikanan, dan bukan hanya itu, antara decakkagum yang terburai pada saat melihat megahnya monas, diantaranya pula hati kecil tersentak ketika para pemulung mengorekngerok kantung dan keranjang sampah dengan harapan akan menemukan botol bekas dan benda lainnya yang bisa dijual untuk dapat sebungkus nasi.

inilah jakarta sesungguhnya, banyak yang tak tersentuh nurani jiwa pada konglomerat, banyak yang tak tersentuh kaki hitam pengayuh sepeda onthel…

dan inilah jakarta, bukan seperti yang di banyak film, dan bukan seperti yang banyak di iklankan, inilah kota megah yang sarat dengan kontradiksi dan pertentangan yang begitu jauh ujungnya.
ini memang kota jakarta, dengan bandara yang megah, disertai mesjid nya yang indah, ditambah lagi didepan mesjid ada gereja kathedral yang sakral merupakan bukti indahnya hidup berdemokrasi dengan tidak saling mengganggu serta menjaga kenyamanan bersama, namun disampingnya ada kali(sungai) yang selalu saja menjadi masalah bagi kaum2 kota kecil yang tidak seberuntung para pejabat, mereka harus rela basah2an dan jalan tanpa alas kaki di air yang menggenangi bada jalan akibat bukan hujan maupun badai, melainkan airnya yang meluap karena pasang surut pengaruh awan dimalam hari. bayangkan saja ketika airnya selalu begitu jika musim pasang tiba, maka air masuk kejalan2 negara dan menggenangi hampir seharian bahkan lebih, bayangkan sajalah…

inilah jakarta, dengan ciri khasnya sebagai kota ibukota, hingga terkadang pameo ” kejam2nya ibu tiri, masih lebih kejam ibukota” terasakan benar….

salam.

Ricky A.T
22.09 WIB
Batavia Hotel – Jakarta

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s