Can We Stopped The Sea ?!


“Lacking money and machinery but rich in manpower, Bangladesh used the brawn of 15.000 men to close the mouth of the Feni River to control flooding and create a freshwater reservoir for irrigating rice. Crossing the muddy river bottom at low tide, workers carry 45 kilogram (100 pound) bags to 11 stockpiles. During a frenetic seven-hour intertidal marathon, they blocked a 1,300 meter (0,8 mile) gap, the largest dam yet built in the south Asian country.”

Ini adalah sebuah kisah nyata yang begitu spektakuler yang dilaporkan oleh Hans Van Duivenduk pada National Geographic di bulan Juli 1987. Kisah ini akan semakin membekas dihati jika saja Anda juga melihat foto-foto karya Pablo Batholomew yang turut merekam kejadian tersebut. Dalam foto itu tampak ribuan lelaki besar kecil berkulit gelap berpakaian sederhana –sarung, kaos dalam, celana pendek – memikul karung berisi pasir diatas kepala mereka.

Membendung aliran laut dan Sungai Feni, demi mencegah banjir dan menciptakan saluran irigasi untuk sawah, itu yang mereka lakukan. Sebagian besar masyarakat Bangladesh berada digaris kemiskinan –itu kita semua tahu- dan kini mereka punya masalah besar. Bagaimana menyelesaikan masalah itu dengan “sesuatu” yang mereka punya. Jelas-jelas mereka tidak punya uang berlebih, apalagi teknologi modern yang mempermudah mengundang solusi sebuah masalah, tetapi satu hal mereka punya sumber daya manusia, yang cukup kuat untuk memanggul jutaan karung pasir dengan berat sekitar 45 kg untuk membendung 1.300 meter gap pertemuan antara sungai dan laut. Dan mereka berhasil.

Contoh luar biasa tentang kemauan, kesederhanaan berpikir dan kecerdikan. Teladan bagi siapa saja, entah sebagai bangsa atau kita manusia secara pribadi, yang kerap kali menghadapi keterbatasan yang sama. Kita –kalau mau jujur- sering kali berpikir terlalu jauh tentang penyelesaian sebuah masalah. Pikiran melayang mencari jawaban dikaki langit, padahal pecahan-pecahan jawaban ada di depan hidung. Mengharapkan jawaban doa yang terlalu spektakuler, padahal sebelum meminta, Dia sudah meletakkan jawabannya dikantong baju kita. Menengadah terlalu lama, mengharapkan apa yang sementara ini belum kita punya, dan mengabaikan apa yang sekarang ada digenggaman. Dan ketika penyelesaian masalah itu –menurut versi kita- tak kunjung datang, mulailah kita memakai otak jenius kita untuk berlogika ria tentang mengapa itu tidak dapat kita lakukan. Mencari alasan yang begitu cerdas, tentang mengapa hal ini atau itu tidak dapat kita lakukan. Kurang modal, tidak punya gelar, bukan dari keluarga kaya raya, tidak sekolah diluar negeri, ini itu anu inu….dan lain sebagainya. Masuk akal. Selalu masuk akal.

Ujung-ujungnya, semua itu kembali kepada kita. Apakah kita sungguh-sungguh mau menaklukan masalah kita. Hari ini, mungkin hanya ketepel, beberapa potong roti dan ikan dan tongkat kayu yang ada dalam genggaman kita. Dunia ini mungkin berkata itu jauh dari memadai, tetapi TUHAN –yang menyukai para pemimpi yang berani- mengatakan itu : lebih dari cukup.
Ditulis Oleh :
Made Teddy Artiana, S. Kom

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s