Hidup Bukanlah Sandiwara


Dunia ini panggung sandiwara.
Ceritanya mudah berubah.
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani..

Setiap insan, dapat satu peranan.
Yang harus kita mainkan…

Sebuah lagu lawas yang populer dari “God Bless”, diputar sebuah stasiun radio yang biasa menemani saya saat pagi berangkat atau pulang kantor sore hari. Namun pagi ini syair indah dari lagu tersebut tidak mampu meresap ke relung kalbu. Entah apa sebabnya, padahal sejak kecil ucapan bijak yang mengatakan “Hidup ini Hanya Sandiwara” sudah sering saya dengar.

Kalau kata “sandiwara” ini diterjemahkan secara terpisah, okelah! Karena “sandi” berarti rahasia atau kode, sementara “wara” diartikan sebagai berita atau pengumuman (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga). Jadi kehidupan seorang manusia adalah berita yang tersamar atau pesan bagi manusia lain. Dari sini kita bisa beranggapan bahwa hidup manusia lain dapat kita amati, untuk dijadikan pelajaran bagi hidup kita sendiri.

Namun tidak demikian bila kata “sandiwara” diartikan secara kesatuan, arti harafiahnya menjadi “pertunjukan lakon, drama atau cerita yang dimainkan oleh orang”. Jika hidup ini hanyalah sandiwara, maka saya, Anda, dan semua makhluk hidup adalah pemain sandiwara. Benarkah demikian?

Jika kita semua adalah pemain sandiwara dan dunia adalah panggungnya, lantas siapa penontonnya? Tuhan? Bukankah Tuhan yang menciptakan dunia berarti juga bahwa Dia-lah sang “sutradara”? Jadi, siapa penontonnya? Siapa penonton yang apresiasinya bisa kecewa, atau bisa memberikan penghargaan?

Naskah

Bagian paling mendasar dalam sebuah sandiwara adalah naskah. Naskah dibuat sebelum sandiwara itu sendiri ada. Artinya, bila Anda seorang pemain sandiwara, maka Anda harus memahami dan menghafal naskah agar kualitas sandiwara itu tinggi. Meski sutradara mengijinkan Anda untuk berimprovisasi, namun tidak akan melenceng dari naskah yang ada. Ketidakpahaman Anda terhadap naskah akan membuat space panggung lebih besar dari space pikiran. Kalau dipaksakan main, Anda akan mudah terkena demam panggung.

Kemudian Anda wajib memahami peta geografi panggung dan demografi penonton. Hal ini berguna dalam menentukan seberapa leluasa Anda bergerak mencurahkan kemampuan acting, menarik perhatian penonton, membuat mereka hanyut dalam alur cerita yang kita perankan.

Jadi bagaimana mungkin, hidup atau kehidupan ini sebuah sandiwara… jika Anda tidak tahu, apalagi paham dengan naskah yang harus dimainkan. Terlebih pula, Anda tidak tahu siapa penontonnya. Jika Anda meyakini hidup ini sebagai sandiwara dan Tuhan adalah “sutradara”, tak perlulah Anda berbuat banyak, cukup jalani saja hidup Anda yang sekarang. Anda seorang karyawan, cukup kerjakan tugas rutin sehari-hari, jangan berpikir untuk melakukan aktivitas lain, karena akan melenceng dari naskah, dan jalan hidup Anda sudah ditentukan sesuai naskah; takdir.

Sandiwara adalah Kehidupan

Buatlah sandiwara Anda sendiri! Jadikan sandiwara yang Anda buat adalah kehidupan Anda, kebahagiaan Anda, kesuksesan Anda. Sandiwara dapat mewakili gambaran yang terjadi di semua wilayah kehidupan kita. Jadikan diri Anda sebagai sutradara sekaligus pemain, jadikan dunia ini sebagai panggung, jadikan sebagian orang sebagai pemain dan sebagian lagi sebagai penonton. Maka buatlah naskah Anda sendiri! Tentukan darimana Anda memulai, kapan memulai, dan ke mana harus melangkah. Tentukan juga tujuan dari cerita yang Anda buat. Jadikan aktivitas yang Anda lakukan sebagi jalan untuk mencapai tujuan.

Meskipun kita tak akan pernah tahu di mana dan kapan kita dijatuhkan bahkan pasti dihentikan, namun naskah hidup yang kita buat dan jalani, akan menjadi ukuran penilaian manusia. Dunia tidak peduli dengan apa yang kita ketahui, tetapi lebih dari apa yang kita lakukan; puncak dari kehidupan adalah tindakan bukan pengetahuan.

Karenanya, susunlah naskah hidup Anda dan jalanilah! Jangan peduli berapa kali Anda dijatuhkan! Bangkit! Lihat apa yang membuat Anda jatuh! Ubah sedikit naskah Anda, jalani lagi! Ingat, yang menentukan nasib kita, bukanlah apa yang menimpa kita, melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya.

Untuk dapat menyusun naskah yang akan dibuat, ada baiknya kita bertumpu pada lima kriteria dari model berpikir strategis, yaitu: organisasi, observasi, sudut pandang, sumber kekuatan dan posisi ideal (dalam terjemahan bebas: “Strategic Management Thinking”: Women Business Center, Dallas TX 1997). Bila diterapkan dalam skala kecil (individu), maka bisa diartikan sebagai berikut:

1. Organisasi
Naskah hidup sebaiknya disusun berdasarkan pertimbangan, pengetahuan dan pemahaman tentang siapa orang-orang selingkungan yang akan terlibat mendukung agar menjadi tontonan sandiwara yang memuaskan diri kita dan menarik buat penonton.

2. Observasi
Naskah hidup sebaiknya disusun berdasarkan observasi atau pengamatan terhadap persoalan, agar kita dapat memahami dan fokus menyusun skala prioritas, tidak terjebak dalam labirin permasalahan.

3. Sudut Pandang
Naskah hidup sebaiknya disusun dari beragam sudut pandang, hal ini diperlukan untuk mengidentifikasi hasil yang diinginkan, mengukur tingkat ketepatan antara ide dan tindakan.

4. Sumber Kekuatan
Naskah hidup yang kita rumuskan sebaiknya jangan sekenanya atau membabi-buta, namun dibuat dengan perhitungan matang atas faktor kekuatan pemicu, pendorong, dan penopang. Naskah hidup harus mampu menjelaskan:

* Visi (tujuan jangka panjang),
* Definisi tujuan (manajemen keinginan),
* Prinsip hidup (keyakinan totalitas dan tidak menerima kompromi),
* Rumusan pelaksanaan sesuai dengan ketersediaan saat ini dan berdasarkan kemampuan nyata menurut apa yang telah kita alami dan telah kita capai.

Mudahnya, jangan sampai berperang tanpa mengetahui kekuatan diri sendiri, kekuatan musuh, kondisi lapangan, cuaca, dan faktor pendukung lain. Sebab, hidup ini bukan main-main.

5. Posisi Ideal
Naskah hidup perlu disusun tidak semata-mata berdasarkan “apa adanya” tetapi perlu melibatkan khayalan atau harapan tentang ‘‘apa yang semestinya” terjadi. Seperti kata orang, tidak selamanya orang gagal itu karena cita-cita hidup yang lebih besar dari kemampuan tetapi seringkali cita-cita dibuat berstandar rendah. Jadi, posisi ideal bukanlah tujuan akhir, namun merupakan proses di mana akhir adalah awal dari yang lain.

Memang tidak semua orang memiliki jumlah penonton yang besar, namun pada prinsipnya kitalah yang membuat naskah sandiwara untuk hidup yang kita jalani.

Semoga artikel ini dapat menjadi tuntunan untuk membuat naskah sandiwara dari hidup Anda.

Salam Bahagia,
Mugi Subagyo

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s