Ukuran Sepatu, Empati, dan Toleransi


Anda tentu masih ingat nasihat untuk ’mengenakan sepatu orang lain’. Maksudnya, kita dihimbau untuk bersedia menyelami perasaan dan pikiran orang lain. Suatu sikap yang mendasari lahirnya empati, dan toleransi. Kita tahu tidaklah mudah untuk benar-benar mampu menyelami jiwa orang lain. Namun, tahukah anda bagaimana rasanya menggunakan sepatu yang tidak sesuai dengan ukuran kaki anda sendiri?

Beberapa waktu lalu, saya bertugas memfasilitasi training tentang kepribadian selama 2 hari untuk sebuah perusahaan multinasional. Saya memutuskan membawa kendaraan sendiri, dan check-in sehari sebelumnya. LCD, sound system, setting ruangan, dan segala perlengkapan training untuk besok pagi sudah dipersiapkan semua. Sempurna.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, saya sudah ’siap tempur’. Tinggal mengenakan sepatu. Sepatu? Oh, iya. Sepatu saya masih dimobil. Itu tidak masalah, karena kamar yang saya tinggali punya tempat parkir sendiri. Sebentar dulu. Dimana kunci mobil saya? Nah, ini baru masalah. Saya lupa dimana meletakkan kunci mobil. Segigih apapun saya mencarinya dengan bantuan petugas hotel, kunci itu tidak kunjung ketemu. Sepatu saya masih terperangkap didalam mobil. Sedangkan satu jam lagi acara akan dimulai. Sementara mengharapkan ada toko sepatu yang sudah buka dipagi buta seperti itu sungguh tidak realistis. Sebagai solusinya, saya meminta petugas hotel mencarikan sepatu ’menganggur’ milik staf hotel yang boleh saya pinjam.

Saya tahu ini agak menggelikan. Tapi, layak dicoba. Walhasil, saya mendapatkan 2 pasang sepatu yang ditawarkan. Hebatnya, tak satupun yang sesuai dengan ukuran kaki saya. Yang nomor 42 jelas kebesaran. Sedangkan yang nomor 39 pasti kekecilan. Mana yang harus saya kenakan? Kalau saya pakai nomor 42, bisa-bisa copot tanpa sengaja ketika saya sedang bicara. Tapi, kalau memilih nomor 39, sudah terbayang betapa sakitnya kaki ini nanti. Akhirnya, saya meyakinkan diri sendiri bahwa lebih baik menahan rasa sakit, daripada menanggung resiko sepatu yang saya kenakan melayang mengenai peserta pelatihan dikelas saya. Rasa sakit ini juga sekaligus sebagai pelajaran dari keteledoran yang telah saya lakukan.

Sungguh, peristiwa itu mempertegas pesan nasihat tentang ’menempatkan diri disepatu orang lain’ itu. Hari itu, saya merasakan betapa tidak nyamannya mengenakan sepatu orang lain. Tidak nyaman dalam pengertian yang sesungguhnya. Saat sepatu itu kebesaran, maupun saat kekecilan. Sungguh tidak mungkin untuk membesarkan ukuran kaki kita supaya cocok pada sepatu yang kebesaran. Atau mengecilkan kaki supaya pas pada sepatu yang kekecilan. Mustahil untuk dilakukan.

Untungnya, ungkapan ’menempatkan dirimu disepatu orang lain’ itu tidak bermakna ’sepatu sesungguhnya’, dan bukan pula berarti ’kaki’ dalam pengertian fisikal. Melainkan bagaimana kita bisa menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki kepribadian yang berbeda dengan diri kita. Dengan penerimaan itu, kita tidak lantas menghakimi orang lain hanya karena perbedaan yang ada. Sebaliknya, kita lebih memahami dan bersedia mengerti. Maka, ketika ’sepatu’ orang lain itu kebesaran, kita bisa membesarkan hati ini supaya sesuai dengan mereka. Sebaliknya, ketika sepatu orang lain kekecilan, kita tidak keberatan untuk mengecilkan egosentrisme ini. Sehingga, kita bisa lebih mampu memahami keadaan orang lain untuk memberi ruang bagi lahirlah empati dan toleransi yang tinggi.

Sebagai imbalannya, ketika kita bersedia menyesuaikan diri dengan orang lain, ada peluang untuk memperoleh ’penerimaan’ dari mereka. Penerimaan yang bukan dari keterpaksaan. Sebab, jika kita bersedia memahami keadaan orang lain, lalu menunjukkan empati dan bertoleransi kepadanya; tentu mereka merasa senang karenanya. Padahal, tidak ada orang yang lebih menyenangkan untuk berhubungan selain mereka yang bersedia memahami dan menerima kita apa adanya. Sehingga, kesediaan untuk berempati memiliki nilai yang sangat tinggi.

Pertanyaannya adalah; apakah kita harus selalu ’berada dalam sepatu orang lain’ itu? Butuh waktu setengah hari bagi kurir untuk mengirimkan kunci cadangan dari rumah ke hotel itu. Begitu kunci cadangan tiba, saya segera mengambil sepatu dari mobil. Lalu, melepaskan sepatu pinjaman itu. Kemudian mengenakan sepatu saya sendiri. Sama seperti kepribadian. Kita tidak harus mengubah kepribadian untuk bisa menyesuaikan diri dengan orang lain. Karena, kita selalu bisa kembali kepada ’kepribadian kita’ yang sudah menjadi zona nyaman itu, kapan saja kita mau.

Sungguh, saya merasakan betapa nyamannya kembali menggunakan sepatu sendiri. Seolah saya disadarkan bahwa nikmat mengenakan sepatu sendiri itu sangat jarang untuk disyukuri. Setiap hari kita mengenakan sepatu yang nyaman. Namun, tidak setiap hari kita mensyukurinya. Setiap hari kita menerima berjuta nikmat dalam hidup. Namun tidak setiap hari kita bersungguh-sungguh mengucapkan terimakasih pada yang memberinya.

Seandainya Mas Joko sang pemilik sepatu yang saya pinjam itu mencoba memakai sepatu saya juga, mungkin saya bisa mengatakan bahwa dalam proses interaksi dengan orang lain; kita perlu ’saling bertukar sepatu’. Supaya kita bisa saling memahami satu sama lain. Dengan begitu, hubungan yang terbentuk menjadi seimbang.

Mari kita perhatikan. Pertengkaran-pertengkaran yang kita alami sering bersumber kepada egoisme. Atau perasaan benar sendiri. Ketika kita bersikeras dengan argumen-argumen kita. Dan pada saat yang sama orang lain juga ngotot dengan pendiriannya mereka. Jurang lebar yang menganga memisahkan kita. Sehingga tidaklah mungkin bagi kita untuk saling berjabat tangan. Bukti bahwa egoisme dan sikap mau menang sendiri memiliki sifat kontra produktif.

Mari kita perhatikan. Kerukunan dan perdamaian yang berhasil kita ciptakan adalah buah dari saling pengertian. Atau rasa hormat kepada pendapat orang lain. Ketika kita berbesar hati untuk memberi tempat kepada argumen orang lain. Dan pada saat yang sama orang lain juga menghormati pendirian kita. Tiba-tiba saja jarak yang begitu jauh seolah menjadi dekat. Lalu kita berjabat tangan, bahkan bisa sampai berpelukan. Bukti, bahwa empati dan toleransi memiliki sifat produktif.

Dunia yang indah, hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki sikap dan perilaku yang indah. Karena, orang-orang yang berperilaku buruk tidak mungkin memberikan keindahan. Dunia yang bersih hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki hati nurani yang bersih. Sebab, orang-orang yang hati nuraninya kotor, tidak mungkin bisa memberikan kebersihan. Sedangkan kebersihan hati, dan keindahan tingkah laku hanya bisa dimiliki oleh mereka yang bersedia menempatkan dirinya dalam sepatu orang lain. Karena dengan cara itu, kita bisa saling mengerti. Dan saling memahami. Satu sama lain.

Catatan Kaki:
Saling pengertian adalah bentuk lain dari reaksi kimia yang membutuhkan kesetimbangan energi yang dikontribusikan oleh kedua belah pihak.

Sumber : Klik disini

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s