‘Harusnya Jiwa Ini Direnggut Peluru’ [bag 3]


Potret kelaparan di Afrika

[Artikel terakhir perjalanan hidup Kevin Carter, fotografer peraih Pulitzer 1994]

Puncak dilema dimulai pada 11 Maret di saat Carter sedang meliput invasi tidak berhasilnya Bophuthatswana dari sayap kanan menundukkan warga kulit hitam apartheid.

Carter berada hanya meter dari eksekusi singkat sayap kanan yang dilakukan oleh ‘Bop’ seorang polisi berkulit hitam. “Aku terbaring di tengah kontak tembak dan pada milidetik berikutnya aku pasti akan mati, dimana kusembunyikan rol film ini agar mereka bisa melihat foto terakhirku,” katanya.

Akhirnya foto Carter terpampang di halaman depan di seluruh dunia. Dia telah masuk terlalu jauh kedalam adegan ala funk dan kekerasan. Ada kengerian menyaksikan pembunuhan. Sementara beberapa rekannya berhasil membingkai adegan itu sempurna.

Carter terus menekan tombol shutter kamera filmnya saat eksekusi berlangsung. “Aku tahu harus lolos dar kejadian itu sebelum ditembak dan aku minum sebotol bourbon malam itu,” katanya.

Dia punya kebiasaan buruk, mengkonsumsi narkoba dan sering mengisap pipa putih. Seminggu pasca eksekusi Bop, Carter terlihat di Mandela rally, Johannesburg. Dia menabrakkan mobilnya ke sebuah rumah pinggiran kota dan dijebloskan ke dalam penjara selama 10 jam karena dicurigai mengemudi dalam kondisi mabuk.

Atasannya di Reuters marah karena harus ke kantor polisi untuk mendapatkan rol film Carter tentang liputannya di peristiwa Mandela.

Kathy Davidson, pacar Carter pun sangat murka. Isu penggunaan narkoba menjadi pergunjingan hangat dalam setahun hubungan mereka. Kathy meminta Carter untuk menjauhinya sampai dia terbebas dari kebiasaan buruk.

Beberapa minggu sebelum berlangsungnya pemilu, Carter bekerja di Reuters dalam keadaan tak menentu. Kehidupan cintanya dalam bahaya dan dia harus berjuang untuk menemukan tempat baru untuk bertahan hidup.

Pada tanggal 12 April 1994, The New York Times menelepon mengabarkan dia telah memenangkan Pulitzer. Nancy Buirski sang editor malah mendengar ocehan Carter tentang masalah pribadinya. Dan menyergahnya “Kevin!, kamu baru saja memenangkan Pulitzer. Hal-hal itu! tidak begitu penting sekarang.”

***

Senin 18 April pagi , Bang-Bang Club berangkat menuju ke Tokoza kota, 10 kilometer dari pusat kota Johannesburg untuk meliput wabah kekerasan

Peristiwa ‘Bob’ yang direkam Kevin Carter

. Sebelum siang hari, Carter kembali ke kota untuk mengambil foto yang bagus. Kemudian di radio dia mendengar sahabatnya, Oosterbroek telah tewas di Tokoza dan Marinovich pun terluka parah.

Sejak kematian Ken Oosterbroek membuat kondisi psikis Carter  terpuruk. Besoknya, dia kembali lagi di Tokoza meskipun kekerasan terus meningkat. “Seharusnya jiwa ini direnggut peluru.” Katanya.

Setelah memenangkan Pulitzer, bukan hanya pujian dan ketenaran yang didapat namun pandangan sinis dari wartawan di Afrika Selatan diterimanya dan menyebutnya sebagai  hadiah ‘kebetulan’.

Banyak juga mempertanyakan etikanya. “Mungkin lebih baik menjadi predator, burung pemakan bangkai di tempat lain dan mengapa dia tidak membantu gadis itu,” kata St Petersburg (Florida) Times.

Carter menyadari dilema menjadi wartawan foto. “Aku harus berpikir secara visual, saya zoom ke rentetan tembakan di dekat orang yang tewas dan percikan merah di seragam tentara dalam genangan darah di pasir,” katanya menggambarkan kondisi kontak tembak.

“Jika Anda tidak bisa melakukannya dan harus segera hengkang dari peristiwa itu. Setiap fotografer yang telah terlibat dalam kejadian seperti ini  dan akan berubah pola pikir selamanya. Tak ada pekerjaan membuat diri mereka merasa baik dan hal ini sangat sulit untuk dilanjutkan,” kata Nachtwey.

Menurut teman-temannya, Carter sering berbicara secara terbuka tentang bunuh diri. Bagian dari kecemasan setelah tugas terakhirnya di Mitterand. Dia tampak khawatir tentang kondisi keuangannya.

Catatan bunuh diri yang ditinggalkannya adalah litani mimpi buruk dan visi gelap kehidupan dan upaya mencengkeram otobiografinya.

Setelah pulang dari New York, Kevin Carter menulis sebuah catatan; dia tertekan, tanpa telepon, kekurangan uang sewa, dana tunjangan anak. Uang untuk bayar utang. Uang!.

Kevin Carter

Inilah catatan terakhir yang ditemukan di bawah jok mobilnya; “Aku dihantui oleh kenangan hidup tentang pembunuhan, mayat, amarah dan rasa sakit kelaparan dari anak-anak yang terluka, orang gila, polisi, algojo pembunuh. Dan dengan ini:…… aku harus pergi untuk bergabung bersama Ken, jika aku beruntung….”

Kevin Carter berjiwa pembela kebenaran sejak kecil. Ibunya, Roma Carter menceritakan bahwa Kevin kecil sering meradang kalau melihat seorang polisi kulit putih memperlakukan orang kulit hitam dengan kejam. ”Kevin berteriak kepada ayahnya agar menghentikan ulah polisi itu,” kata Roma.

Demikianlah, profesi sebagai fotografer jurnalistik sering membawanya menjadi saksi peristiwa-peristiwa keji, seperti orang yang dibakar hidup-hidup ataupun orang yang dibantai beramai-ramai di tengah keramaian.

Carter tidak tahan hidup menjadi saksi kekejaman. Ia memilih mengakhiri hidupnya.

Pertanyaan penting tentang mengapa foto karyanya penuh dengan rumor, barangkali bisa merujuk pada pendapat Richard Winer, peneliti misteri Segitiga Bermuda.

”Manusia pada dasarnya senang mitos. Walau sudah ada penjelasan ilmiahnya, sebuah mitos atas suatu peristiwa selalu ada,” kata Winer.

Terakhir, kisah heroik fotografer Bang-Bang Club ini di ulas kembali ke layar lebar pada tahun 2010 dan Kevin Carter menjadi legenda pembela kemanusiaan. Dia mampu merekam catatan sejarah muramnya perjalanan dunia tentang kelaparan, kekerasan dan haus kekuasaan individual dan kelompok tertentu. [Disadur ulang: Chaideer Mahyuddin]

***

[Tamat]

Sumber : atjehpost

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s