Antara Burung Nazar dan Kematian [bag 1]


Foto Kevin Carter yang menang Pulitzer 1994

Siapa yang tak kenal dengan foto anak yang mengais sisa makanan untuk bertahan hidup disamping burung pemakan bangkai? Foto tragis yang direkam oleh Kevin Carter yang menggambarkan kelaparan yang terjadi di Sudan.

Kevin Carter berhasil memenangkan penghargaan Pulitzer yang membawanya ke puncak ketenaran.  Mendongkrak jangkar karirnya dalam dunia jurnalistik yang berhasil meliput dari dekat di zona perang yang mengerikan dan tinggal di garis depan untuk mendapatkan karya foto terbaik di dunia.

Pada tanggal 23 Mei 1994,  setelah 14 bulan dia merekam peristiwa yang menggemparkan dunia tersebut, Carter berhasil melangkah menuju ke podium di Classical Rotunda of Columbia University’s Low Memorial Library, Amerika Serikat untuk menerima hadiah bergengsi Pulitzer untuk kategori fotografi terbaik.

Konflik di Afrika Selatan akhirnya menyita perhatian publik. “Sumpah, aku menginginkan tepuk tangan dari semua orang,” tulis Carter. Setelah pesta Pulitzer itu, dia kembali ke orangtuanya di Johannesburg. “Saya tidak sabar untuk menunjukkan tropi ini adalah hal yang paling berharga dan atas pengakuan tertinggi dari pekerjaan saya, saya berhasil mendapatkannya..”

Namun tragis, dua bulan setelah dia menerima Pulitzer, tanggal 33 Juli 1994 Carter ditemukan meninggal akibat keracunan gas karbon monoksida di Johannesburg. Dia diduga bunuh diri dalam sebuah truk pickup merah yang diparkir di dekat sebuah sungai kecil. Asap knalpot sengaja dialirkan melalui selang ke dalam mobilnya.

“Aku benar-benar menyesal, rasa sakit ini menimpa kehidupan sukacita hingga ke titik tidak adanya sukacita,” tulisnya dalam catatan yang tertinggal di jok di bawah ransel.
Bagaimana bisa orang yang telah dikenal banyak orang dengan karyanya dan meraih kemenangan besar namun berakhir bunuh diri di usia muda?. Obituari singkat kemudian

Kevin Carter

muncul di seluruh dunia dan menyarankan agar kutukan atas ketenaran seseorang dihentikan. Kejadian tragis Carter menjadi salah satu kisah moral itu.

Kisah kematian dramatis Carter diyakini akibat problema tekanan batinnya. Ketakutan akan foto yang tidak pernah bagus, kejernihan eksistensial terus menerus hinggap dalam kepalanya untuk bertahan dari kekerasan hidup. Dan narkotikalah digunakan untuk mengusir kejernihan itu.

Jika ada pelajaran penting yang bisa disimak dari Carter bahwa tragedi tidak selalu memiliki dimensi heroik. “Aku selalu memiliki semuanya di kakiku, karena aku berkeinginan untuk meraihnya,” kata-kata terakhir dari catatan bunuh diri.
Kevin Carter lahir pada tahun 1960, persis pada tahun disaat Nelson Mandela Kongres Nasional Afrika dilarang. Sebagai keturunan dari imigran Inggris, Carter bukanlah bagian dari mainstream Afrikaner yang mengendalikan negara itu. Memang, ideologi tersebut membuat dia terkesima namun Carter sendiri terperangkap dalam kecelakaan sejarah itu.

Carter sangat mencintai orang tuanya dan dia sering menceritakan kepada sahabatnya kalau masa kecilnya tidak bahagia. Sebagai seorang remaja, dia mencari sensasi dengan mengendarai sepeda motor dan berkhayal menjadi pembalap mobil.

Setelah lulus dari sekolah Katolik di Pretoria pada tahun 1976, Carter kemudian belajar farmasi dan akhirnya meninggalkan bangku sekolahnya dengan prestasi dibawah rata-rata. Carter lalu bergabung dan menjalani wajib militer Angkatan Pertahanan Afrika Selatan dan dia mengetahui tentang kekuasaan rezim apartheid yang menjijikkan.

Meskipun menjadi tentara, dia selalu mendapat ejekan dari tentara yang berbahasa Afrika, memukulinya dan menyumpahinya dengan sebutan kaffir-boetie (kekasih negro). Tak tahan dengan perlakuan itu, pada tahun 1980, Carter meninggalkan dinas ketentaraan tanpa cuti dengan mengendarai sepeda motor ke Durban. Mengganti namanya menjadi David dan kemudian bekerja sebagai disk jockey.

Carter sangat ingin menjenguk keluarganya tapi merasa malu untuk kembali. Pernah suatu ketika dia menelan puluhan pil tidur setelah kehilangan pekerjaan. Tapi nyawanya tertolong dan kembali bergabung dengan Angkatan Pertahanan Afrika Selatan (SADF).

Dia pernah terluka pada tahun 1983, saat bertugas menjaga markas angkatan udara di Pretoria. Sebuah bom yang dikaitkan dengan pemberontak African National Congress (ANC) meledak dan menewaskan 19 orang.

Setelah meninggalkan militer, Carter mendapat pekerjaan di sebuah toko kamera yang memasok untuk para jurnalis dan berhasil mendapat tugas pertama sebagai fotografer olahraga untuk Johannesburg Sunday Express.

Pada tahun 1984, kerusuhan mulai menyapu kota-kota hitam, Carter bergabung dengan media Johannesburg Star dan menyebut dirinya sebagai tumbuhan muda dalam jurnalis foto. Seorang kulit putih yang ingin mengekspos kebrutalan apartheid, misi yang dulunya didapat eksklusif fotografer kulit hitam di Afrika Selatan.

“Mereka menempatkan diri dalam kondisi berbahaya, ditangkap beberapa kali tapi tidak pernah berhenti. Mereka benar-benar rela berkorban untuk apa yang mereka percayai,” kata James Nachtwey jurnalis foto Amerika yang sering bekerja bersama Carter.

Pada tahun 1990, perang saudara makin berkecamuk antara Mandela ANC dan Zulu yang didukung Inkatha Freedom Party. Sebagai orang kulit putih, kondisi tersebut sangat fatal dan untuk mengurangi resiko bahaya, Carter berkerjasama dengan tiga rekannya, Ken Oosterbroek, freelance Greg dan Joao Silva Marinovich.

Mereka memasuki kota melalui Soweto dan Tokoza saat fajar meliput geng pembunuh yang sering menembak bus, melemparkan orang dari kereta atau memenggal kepala di jalanan.

Peristiwa itu terjadi saat penghuni kota mulai menjalani aktifitas mereka disaat pagi buta di Afrika. Keempat wartawan itu pun terkenal karena liputannya tentang kekerasan yang nyata, majalah Johannesburg menjuluki mereka sebagai “Bang-Bang Club.” [Chaideer Mahyuddin]

****

(bersambung)

sumber : atjehpost

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s