Mencintai Fotografi Laksana Menyayangi Istri [bag 2]


Kevin Carter diantara peristiwa kekerasan di Afrika Selatan

Kevin Carter bersama timnya sering menjelajah sudut kota-kota yang berbahaya. Pasukan keamanan pemerintah pun tercatat terlalu banyak menggunakan senjata secara berlebihan. Hampir semua orang menggenggam senjata ditangannya, kekacauan makin tak menentu apalagi kerap terjadi pertempuran antara faksi-faksi di jalan hitam yang melibatkan AK-47, tombak dan kampak.
“Di beberapa prosesi pemakaman beberapa pelayat terkadang menangkap orang, menganiaya dan langsung menembaknya, bila kedapatan melarikan diri dengan mobil dan mereka tak segan akan membakarnya hidup-hidup,” kata Silva, menggambarkan peristiwa itu dalam sebuah pertemuan khusus.

“Foto pertama saya menggambarkan orang-orang yang tersungkur di tanah dalam kerumunan massa yang akan membunuhnya. Kami beruntung bisa lolos..”

Terkadang butuh lebih dari satu kamera dan persahabatan untuk melewati pekerjaan berat seperti itu. Mengkonsumsi ganja menjadi sebuah tradisi lokal yang disebut sebagai dagga dan dijual bebas di Afrika Selatan. Carter dan beberapa jurnalis foto terkadang sering mengisapnya untuk meredakan ketegangan dan untuk menjaga hubungan komunikasi dengan pejuang jalanan.

Dalam sebuah patroli fajar salah satu geng jalanan membayar Bang-Bang Club untuk mendokumentasikan aksi mereka. Marinovich kemudian berhasil memenangkan Pulitzer. Foto-fotonya menggambarkan suku Zulu ditikam hingga mati oleh pendukung ANC, September 1990.

Penghargaan bergengsi itu mampu mengangkat harga saham medianya termasuk popularitas Carter. “Mereka memiliki tipe popularitas kepribadian unik, mencintai fotografi  layaknya menyayangi istri,” kata Nachtwey.

Pada tahun 1993, Carter bersama Silva menuju ke utara perbatasan untuk memotret pergerakan pemberontak di Sudan yang dilanda kelaparan. Untuk melakukan perjalanan panjang itu, Carter mengambil cuti dari Weekly Mail dan meminjam uang untuk tiket pesawat.

Setelah pesawat mendarat di Desa Ayod, Carter mulai mengambil foto korban kelaparan. Banyak massa mencari bantuan dan sebagian mati kelaparan.

Kevin Carter

Carter kemudian berjalan ke hamparan semak-semak, lalu dia mendengar rintihan lembut bernada tinggi dan melihat seorang gadis kecil mencoba merangkak tertatih ke pusat pembagian makanan.

Di saat dia membungkuk untuk mengambil foto, seekor burung pemakan bangkai mendarat di belakangnya. Dengan berhati-hati sekali agar tak mengganggu burung itu dan Carter berhasil mengabadikan gambar terbaik.

Dia menunggu sekitar 20 menit, berharap burung bangkai akan melebarkan sayapnya. Tapi burung itu tak bergeming menatap mayat hidup itu. Setelah mengambil beberapa foto, dia mengusir burung nazar dan menyaksikan gadis kecil itu melanjutkan perjuangannya.

Carter terduduk di bawah sebuah pohon sambil menyalakan sebatang rokok, berbicara kepada Tuhan dan menangis. “Dia mengalami depresi setelah itu dan terus bergumam, ingin memeluk putrinya.” kenang sahabatnya, Silva.

Setelah beberapa hari di Sudan, Carter kembali ke Johannesburg. Kebetulan, New York Times sedang mencari gambar tentang kondisi bencana Sudan dan pada tanggal 26 Maret 1993 mereka membeli foto ekslusif tersebut.

Foto tersebut kemudian menjadi ikon penderitaan Afrika. Ratusan orang menulis berita musibah mengerikan itu dan surat kabar Times menanyakan apa yang terjadi pada anak itu meski dalam beberapa laporan menyebutkan tidak diketahui apakah dia berhasil mencapai pusat makan.

Hampir semua media di seluruh dunia mereproduksi foto Carter. Teman dan rekan memuji Carter atas karya besarnya.

Carter berhenti bekerja di Weekly Mail dan menjadi foto jurnalis lepas, cara terbaik memikat konsumen namun berisiko untuk terpenuhi kebutuhan keuangan. Tidak terjamin keamanan kerja, tak ada asuransi kesehatan dan tunjangan kematian.

Dia akhirnya mendaftar di kantor berita Reuters digaji $ 2,000 per bulan dan mulai membuat perencanaan untuk mencover liputan tentang pemilihan umum pertama di negaranya.

Beberapa minggu kemudian, bayangan masa lalunya membuat dia dilema dan depresi. Keraguan kepada diri sendiri dan phobia kemenangan sesaat terus mengganggu pikirannya. [Chaideer Mahyuddin]

***

[bersambung]

Sumber : atjehpost

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s